Pratama
Pratama › Cerpen

on Friday, 18 September 2015

RAIN Part 1



Part 1 [ Aku Rain ]
"Aji..,jangan tinggi tinggi nanti jatuh" pekikku dari bawah pohon mangga madu yang cukup tinggi itu dengan raut wajah cemas melihat sahabatku itu.
"Iya Ra..,satu lagi nih" menoleh kebawah dengan tersenyum padaku. Kakinya meraba raba kulit pohon mangga itu mencari pijakan ,
"Jangan injek itu Jiii" dan upss..
Brukkk..
"Auu" desahnya, kepalanya terbentur tas biru yang tidak keras. Untunglah.
"Hahaha..gue bilang apa coba? Rantingnya kecil tau..sedangkan eluu?"ejekku walaupun sebenarnya aku sangat khawatir padanya.
Aji hanya nyengir, merasa badanya sakit. Dan menutup matanya perlahan. Dia tak mengucapkan sepatah kata pun.
"Aji.. ga usah becanda deh lu. Nggak lucu tau" kataku tertawa parau, jujur sekarang aku sangat cemas, ku goyang goyangkan badanya . "Ajii.." dan air mataku kini meluncur tanpa kurasa hingga membasahi lengannya . "Gue saya-" kataku tepotong oleh dehamnya.
"Biasa aja kale Ra. Gue belom mati" suara Aji yang terdengar begitu nyaring dan santai namun tetap memejamkan matanya.
"Ajii gue bunuh lo. jii..." seketika kurasa benar benar malu. Sebegitu khawatirnya aku padanya di hadapanya pula.
Membaringkan badannya di rumput lapangan yang hijau menunggu ku mengupas mangga yang tadi dipetikya. Tangannya di belakang kepala sebagai sandaran kepalanya.
"Ra. Gue denger denger Eta sekolah di tempat kita ya?" Tatapannya lurus menatap awan yang teduh di langit sana. Dia tersenyum.
"Eta? Tetangga baru gue itu? Iya.., emang kenapa?" Jawabku yang tak jelas karena mulutku memakan potongan mangga.
"Nggak papa sih, ngomong ngomong dia cantik ya?kayaknya gue suka deh ,gimana menurut lo?"skak mat
Sekarang dia menatapku meminta pendapat atas pertanyaanya . Pertanyaan yang menyakitkan. Tapi untuk apa aku cemburu dia sahabatku , dia berhak suka pada siapapun, sahabat yang selama ini aku cintai. Hah bodoh sekali aku ini. Jelas jelas Eta lebih cantik dari pada aku. Dia.. ah sudahlah. Memikirkannya membuat nafasku sesak bak udara di bumi menghilang .
Susah payah kutelan mangga tanpa air, walau sebenarnya banyak mengandung air . Entahlah . Aku masih diam. Perlahan ku tarik ujung garis bibirku keatas. Mengukir senyuman yang sangat menyakitkan.
"I-ya, di-a can-tik.cantik sekali " kupejamkan mataku kulepas pisau yang sedari tadi kugenggam,mangganya menggelinding turun . Bulir bening turun membasahi pipiku yang dingin.
"Lo kenapa Ra. Kelilipan?" Cekikikan melihatku seperti anak kecil. "Ra..,lo nggk papa kan?apa gue salah ngomong?Ra....?" Sekarang kudengar nadanya tampak serius. Dapat kurasa hangat nafas dan bau parfum campur keringat semerbak di hidungku. Siang hari ini dingin sekali, udaranya hilir masuk ke pori pori kulit tanganku,namun saat ini ku rasa badanku sekarang hangat , pelukan Aji saat ini sungguh hangat. Aku sangat lemas ,tapi kucoba merenggangkan badanku mencoba melepas pelukannya saat ini. Dan sepertinya dia tau maksudku.
"Ra, lo cemburu? Lo takut kalo perhatian gue kebagi? kehilangan gue? Tenang aja kali ra lo akan tetap jadi sahabat yang nggak kan pernah gue tinggalin,gue janji" dia melepaskan pelukannya memandangku semburat senyum indahnya lesung pipitnya terukir manis .
Ya tuhan .
"Gue seneng Ji, sekarang lo udah nemuin seseorang yang lo cintai . Dan gue bakalan jadi penggangu jika cewe lo nanti ga suka sama sahabat cerewet lo ini" ya itu kata yang tepat.
"Makasih Ra, tapi elo nggak akan pergi dari kehidupan gue, sekalipun cewe gue yang minta" jari kelingkingnya menjulur , ku balas jabat jari kelingking itu. "Rain Audrey Hermawan yang cantik, Aditya Aji Pangestu saat ini berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu,dalam keadaan apapun" cara bicaranya seperti berikrar. Mengikrarkan masa depannya.Yang konon menurut asal mulanya apabila orang melingkarkan jari kelingking sebagai janji dan jika tidak di tepati si pembuat janji harus memotong jari kelingkingnya. Jadi aku tahu apa maksudnya . Aku bukanlah wanitamu kelak Ji.
Bukan aku.
"Gue pulang ya Ra, Eta kan tetangga lo. Hmm, gue titip salam " senyumnya mengembang melihat rumah Eta yang sangat *kebetulan* Pas sekali di depan rumahku. Ku beri senyum pertanda aku aku akan menyampaikan salamnya.
"Ra. Besok kita bertiga berangkat gue jemput ya?" Nadanya sungguh girang berciri khas. Bertiga? Ohh Eta.
"Iya.. nanti gue sampein ke Eta, lo tenang aja" tawaku mengejek.
Lambaian tangan dan siluet tegap yang berjalan menjauh dan hilang. Ku tarik nafasku panjang panjang . Ku pijakkan kaki menuju depan pintu, pelan kubuka knop pintu dan aku sudah disambut Mama dan Eta. Eta? Kenapa dia di rumahku?.
"Hai Ra.." sapanya sambil menepuk pundakku pelan.
"Hai......ta"ku balas dengan senyum bingung. Ku lirik sejenak Mama yang sekarang senyum senyum sendiri.
"Ra.., mama mau ngomong. Kamu duduk dulu " menarik tangan Rain menuju sofa hijau berbulu di ruang tengah.
Yang diikuti Eta.
"Apaan sih ma??" Bingungku semakin menjadi jadi.ku tekuk alisku melihat semua berkumpul di ruang tengah. Ya semua. Tante Ranti dan om Heru orang tua Eta. Papa dan Rendy adikku.
"Sayang , mama dan papa akan pergi ke London bersama orang tua Eta. Kita mau mengejar bisnis perusahaan papa di sana bersama. Kebetulan sekali pak Heru adalah rekan kerja papa di kantor. Dan.." kata mama terpotong oleh dehaman papa.
"Kamu akan tinggal bergantian bersama adikmu dan Eta, kita mungkin kurang lebih 2 Tahun full di London. Jadi kalian akan hidup berdua secara bergantian terserah bagaimana kalian membaginya" jelas papa, yang sama sekali bukan berita baik. Sungguh ini berita buruk sangat buruk. Mana mungkin aku akan tinggal bersama calon pacar dari sahabat ku sendiri. Bukan apa apa sih , tapi itu akan membuatku sangat sulit menghilangkan rasa ku pada Aji.
***
Pagi pagi sekali ku bangun , ku dengar jeritan perempuan di dapur 'Lho bukannya mama udah berangkat tadi malam,apa mungkin Eta?' pikirnya dalam hati.
Mengendap endap ku intip siapa orang yang berada di dapur.
.
.
Ku lihat tetesan cairan merah di lantai, tetesan itu berakhir di kamar mandi . Aku hampir menjerit . Aku sangat takut dengan warna merah. Kata dokter aku menderita sydrome Erythrophobia. Kututup mataku berjalan menuju depan kamar mandi.
"Eta..? Lo di dalem?" Ku ketuk pintu kamar mandi .
"Hmm iy-a Ra, ini gue" suara Eta. Ya benar itu suara Eta.
"Lo kenapa , kok ada darah?" Mencoba mengetuk pintu, tapi Eta segera membukanya.
"Gue nggak papa kok Ra, tadi cuma kena pisau."senyumnya aneh sekali dan langsung membersihkan bercak darah di lantai.
.
.
.
Tiiin.. tiiinn
Klakson mobil di depan rumah berisik sekali, yang kutahu itu pasti Aji. Ya tuhan aku lupa menyampaikan pesannya pada Eta. Ku sudahi cepat sarapanku , bergegas ku mencari Eta. "Eta.., udah ditunggu Aji tuhh di depan, cepetan dong keluarnya."teriak Rain sambil menggedor kamarnya yang di pakai berdua dengan Eta.
"Iya."ku dengar jawabnys pelan, pelan sekali.
Sejurus kemudian Eta keluar seperti layaknya gadis SMA biasa, tapi dia sangat cantik. Kepang menempel kulit kepala sebelah kiri ujungnya di beri pita. Ah.. aku? Lupakan. Aku hanya mengikal rambutku.
"Ra, hei . Ayo ke depan" tangannya melambai lambai kedepan wajahku membuyarkan lamunanku.
"Ehh.. iya"
Kita berjalan menuju depan. Knop pintu di bukannya pelan, dan di sambut senyum heran 'mungkin dia bingung kebapa Eta di rumahku' pikirku.
"Cantik banget elo Ta" kata pelan Aji sambil memandanginya dengan wajah mupengnya.
"Hh..,makasih(tersenyum sebentar) Rain juga cantik" sekarang Ets melirikku. Aku cantik? Sudahlah Ta jangan mengejekku.
"Udah yuk , berangkat. cus.." segera mengakhiri kecanggungan ini. Ku dahului masuk ke mobil dan dususul kedua sejoli itu. Apa sakit? Tetu saja karna belum sepenuhnya aku lupa bagaimana rasanya pelukan Aji.
*biar menghayati, Lo (ya lo reader) Rain itu lho. Lo suka sama sama cowo. Dan dia cuma ngganggep lo sebagai sahabat . Gimana sakit nggak?
***
Kita tiba di SMA 3 . SMA gue sama Aji dan sekarang menjadi SMA Eta juga. Aku tak kuat harus melihat Mereka bercanda dengan riangnya di sampingku. Ku tinggalkan mereka. Kulewati koridor gedung. Jalanku sangat tidak nyaman dilihat. Sungguh aku merasa aneh pagi ini. Mungkin akan terjadi sesuatu. Dan kuharap itu hal baik. Mendung menyelimuti langit , seperti mengerti isi perasaanku saat ini. Persekon kemudian bulir bening turun deran rintikan kecil. Ya sungguh kau mengerti ta tuhan. Hujan kini semakin deras. Deras sekali. Aku sama sekali belum mati rasa dan sekarang aku sadar ada sosok tegap di belakangku. Ku tengok pelan . Ya tuhan Pak Bardi.
"Kenapa belum masuk?" Tanyanya sambil menggertak. Bodoh. Aku tadi tidak mendengar bunyi bel.
"Ma-af pak, tadi nggak denger suara bel" jawabku jujur ,tanpa ba-bi-bu lagi gemetar kakiku memasuki ruangan kelas yang sudah di penuhi siswa lain. *tentu saja, aku kan telat masuk
"Ra lo kemana aja sih?" Teriak Boby ketua kelas . Dia kelihatanya melirik papan absensi yang bertuliskan
" ketidak hadiran = Rain Audrey .H. - alpha"
"Hhmm, anu . Gue tadi cuma telat masuk doang . Yaelah Bob " kataku sedikit memohon dengan wajah yang kubuat melas.
"Ya udah sana langsung duduk!" Teriaknya sungguh galak. Gila mimpi apa gue semalem..
Ku duduk dengan... *eh tunggu dulu . Itu memang tempat dudukku kenapa manusia di sebelahku ganti? Dia bukan Tita , yang sedari dulu gue dudu sama dia.
"Ehh, maaf. Ini tempat duduk lo ya, gue di suruh (menunjuk Boby) duduk disini. Lo keberatan?" Suaranya . Suara yang tak asing bagiku . Aku seperti mengenalnya. Pernah bertemu dengannya tapi dimana ya? Arrgghh.. aku lupa
"Iya nggak papa kok" ku duduk di sebelahnya. Ku tatap wajahnya , matanya hitam legam, kulitnya putih tidak pucat, hidungnya hidung pakistan , pipinya ..hiiihh gue ini.
"Lo siapa?" Tanyanya memandangku penuh senyum.
"Gue. Rain Audrey Hermawan. Elo?" Kujabat tanganya yang hangat beda sekali dengan yanganku yang dingin.
"Gue. Ferry Ramadhan. by the way tangan lo dingin banget. Aku hanya nyengir , kulepas tangannya.
.
.
.
.
Gue inget , ya gue inget banget siapa yang duduk di sebelahku sekarang. Dia .....

 =END=
Fans Page : Khayalan
Part 2 Next Post
Follow ig :: Lisa.www