Pratama
Pratama › Cerpen

on Friday, 18 September 2015

Rain Part 19

Part 19
FansPage : Khayalan

"Oh iya.. lupa. Harusnya tadi jangan marah dulu sama ayah....duhhh, pasti nggak boleh ikut conser dehh... ahg bodoo bangettz sehhh" kesalnya sambil membenarkan posisi mentimun di matanya.
"Bilang nggk ya?"
.
.
.
Icha_cha
Ping!!!
Maaf Di, kayaknya aku nggak bisa pergi deh
Segera Icha tekan Send.
dan cepat Ada balasan.
DilanDie
Kenapa Cha?
Icha_cha
Eeumm.. nggak berani bilang ke ayah, pasti ngga boleh deh. Tau sendiri lah kamu..
DilanDie
Yah :( , aku aja yang bilang ke ayah kamu. Gimana?
Icha_cha
Gila.. jangan lah...
DilanDie
Pokoknya aku mau ijinin kamu!. Sekarang.
Icha_cha
Dilaaannnn... jangan dong, jangan pokoknya jangan!!!!
Dan hanya di-R oleh Dilan.
"Kamvret, tau gini mah nggak usah bilang.. aa.. Dilan gila, tapi kok gue suka..... aaiicchhh..." Icha ngomel ngomel sendiri sambil memakan keripik kentangnya. Juga berdoa kalau Dilan cuma becanda.
Ting,,,
Bel rumah berdering, Icha mulai panas dingin, di satu sisi dia senang bahwa Dilan adalah satu satunya cowo yang berani ijinin Icha, ya itu berarti anak baik kan??
Di sisi lain Icha sungguh gugup , ayahnya bukanlah tipe ayah yang meng'IYA'kan sesuatu dengan mudah. Ya kalo ayah pikir itu nggak penting.. langsung bilang 'nggak' tanpa babibu... dan pastinya setelah itu akan ada ceramah eh.. nasihat maksudnya, yang sangat lama.
Icha menutupi tubuhnya dengan selimut, memeluk guling minion-nya. Menggigit gigit bibir bawahnya. Hingga ia mendengar suara panggilan ayah.
"Ya allah... lindungi hambamu ini" ia membuka selimutnya.
"Ahh.. kenapa gemeter nih kaki... vangke banget" Icha mengomel sendiri karna kakinya gemetar.
"Icha... " panggilan ayah lagi.
"Iya.. yah, bentar"
"Ada pacarmu..."
Setelah itu terdengar gelak tawa yang cukup keras dan banyak. Siapa aja sih yang dateng???
"Apaaaa?? Pacar? Kuharap itu Dilan. Tapi... aku kan belom boleh pacaran sama ayah. Kok ayah bilang gitu... ihhhh Dilannn, kamu ngomong apaan sih sama ayah????????" Batin Icha, yang membuat kakinya makin gemetar.
.
Icha pov
Ku turuni tangga, ya.. dengan gugup. Aku belum siap mendapat amarah ayah.
"Wah... cantiknya" kata seorang wanita, dengan seorang pria duduk di sebelahnya. Dan.. Dilan berada di pinggir. Oh... tuhannn dia menatapku sambil tersenyumm...
"Bangke.. lu Di. Kenapa senyum segala dih.. gemeteran gueeeee" batinku yang kututupi dengan senyuman Fake banget.
"Makasih, euhm.. bu. Eh.. mbak... eh... Tante. Ya tante..." gila efeknya nyalur ampe mulut.
"Hahaha... nggak usah gugup gitu kali Cha" kata Dilan yang terkekeh.
"Hehe, ini putri Rain?" Tanya seorang pria yang kurasa adalah ayah Dilan dan suami wanita itu pastinya.
" Icha Arinda Herdiawan " ucapku , menyalami wanita itu dan suaminya. Kecuali Dilan. Ya kalo Dilan sih... maunya peluk aja.. hehe
"Satu kelas sama Dilan?" Tanya wanita itu.
Kugelengkan kepalaku sambil tersenyum.
"Tapi kenal kan?" Tanyanya lagi.
"Iya.. Dilan kelas 8C saya kelas 8F" jawabku.
"Dia naksir aku bun.." perkataan dilan pada wanita itu.
"Heiii.. siapa bilang?" Kukeraskan suaraku. Ya sampai ku merasa pipiku kini merah. Dan ya allah.... jantungku serasa mau copot, kenceng banget deg- degan nya. Sumpah.. eek Zebra banget si Dilan.
Semua tertawa. Kecuali aku. Soalnya nanti kalo aku ketawa.. ketauan banget kalo aku emang naksir .
"Ohh.. iya lupa, kenalin.. ini Tante Itte, sama ini om Aji. Nah yang itu pacar kamu kan.."pas nyampe di kalimat terakhir. Sumvah mau pingsann guee..
"Iya om Herdin, Si Icha.. udah naksir saya lama" kata Dilan tanpa merasa bersalah udah buat jantungku tak karuan rasanya.
"Haha... , om Aji sama tante Itte ini, teman Bunda sama Ayah" kata Ayah padaku.
"Ooo" ck. Ya cuma itu.. oooooo
"Oh.. iya om, Icha kemarin nawarin aku buat nonton konser om" shittt!!! Dilan gelo.....
"Siapa yang ngajakin kamu! Nggak yah... Dilan boong"
"Nggak usah malu gitu kali Cha..., om terus ya.. Icha ngajaknya maksa" Dilan tertawa dengan lepasnya. Huh... untung aja aku naksir dia, kalo nggak udah jadi pecel lele tu anak.
"Nggak.. ih.."
"Hahaha" semua tertawa. Inget!!! Aku nggak.
"Om.. boleh ijin?" Mau apa lagi nih bocah.
"Ijin buat apa?"
"Buat.. nurutin kemauannya Icha nonton konser bareng saya"
"Ohh... boleh, tapi jam 8.30 harus sudah pulang, memangnya kapan?"
"Besok sore om"
"Gimana Ji,Te?" Tanya ayahku pada orang tua Dilan.
Mereka mengangguk dengan mantap.
Shit!! Dilan berhasil. Hore. Hore.. widirit..
*ups itu kartun apa ya?*
Aku tersenyum, begitu juga Dilan. Tapi senyumnya aneh, senyum merasa menang karena dia bukanlah cowo yang ngajak jalan cewek nunggu di perempatan trus balikin di perempatan. Dilann...
.
.
"Dilan mana ya?" Ku bingung pagi ini sama sekali ku yak melihat batang hidungnya. Sekarang adalah istirahat kedua. Apa dia nggak masuk ya?.
"Daaa... "
"Eek kuda looo..." teriakku seketika. Kamvret kaget . Dan seketika semua manusia di sekitar menoleh. Mungkin mereka sedang mencari eek kuda (?) *ehh
"Mikirin Dilan mulu " ejek Nisa.
Aku mendengus, Nisa menjitak kepalaku. "Ichaa... aku mau curhat" seketika wajah Nisa berubah jadi Monyet *eh.. apa ya itu? *peace*
"Kenapa lagi si Dikaan?"
"Itu dia, dia sekarang garing. Segaring kerupuknya pak Eko"
Nisa bersandar di pundakku. Macam kita ini pacaran..
"Aduh... kenapa dianya?"
"Aku nyanyiin bukannya bilang makasih ato apa gitu, malah nanya lagu siapa? Coba bayangin"
"Ih.. jahat, harusnya kan bilang suara lo ancur parah. Harusnya gitu"
"Bangke lu.." Nisa menjitak aku lagi. Woii ini kepala bukan generator van de graf.
"Oke deh sorry, ganti sama bang A aja nis"
"Bang A udah punya pacar atuh.. " yah... yahh... nangis nih bocah. Aduhh jangan nangis dong.
"Sabar sa... "
"Trus ya, tadi dia kesini buat tanda tangan, sama ambil SKHU . Pas aku bilang Hati hati ya Mas Dikaan, dia cuma nengok doang Cha" Shit!! Mas Dikaan mah apa atu... juhut bungut.
Tettt...
Bel bunyi tanda istirahat selesai. Dan segera saja aku harus segera masuk karena ada ulangan matematika. Nisa pun kembali ke kelasnya .
.
Di soal ulangannya, ada tulisan "PIKIR SENDIRI" Vret ah... untung soalnya gampang. Kalo susah.. MATI LAH SAYA.... *pake suaranya Jarjit*.
Ku dengar gelak tawa dari Seorang Dilan dari luar , ya benar itu suara Dilan. Hih... ingin sekali aku menengok keluar, melihatnya sedetik saja. Tapi nggak bisa, nanti jawaban ane disobek ...
"Cha.. ini apaan?" Tanya Yoga bisik bisik.
"Pikir sendiri"
"Ah.. ga asik lo"
"Cha... gimana nih?" Tanya Indah yang duduk di belakangku.
"Pikir sendiri!!" Gertak pak guru.
"Icha...." bushet... namaku dipanggil.
"Iya.. pak "
"Mana jawaban kamu?, sekarang kamu keluar!!! Kumpulin sini" anjay... aku nggak nyontek kali pak.
Ku berdiri dengan mantap. Untung udah ku jawab semua.
ku keluar dengan pandangan aneh dari teman temanku. Apa lo liat liat...
.
Ku berjalan menuju kantin Pak Eko. Melewati tangga dan kelasnya Dilan. Aku bisa melihat Dilan. Dilan di luar. Awesome..... Dilan beda cuyy...
"Wuuiiihhh..under cut" gumanku, untung nggak ngeces. Dilan sedang dihukum bu guru, karena potongannya. Kenapa sih bu dihukum segala?? Itu kan kecehh...
Ku berjalan melewati Dilan. Aku terkekeh puas.
Bu guru segera masuk, dan menyuruh dilan hormat pada bendera, duh... kasian.
"Kenapa Di?"
"Njahit seragamnya messi"
"Elah... "
"Ngapain disini?"
"Disuruh keluar pas ulangan" jawabku santai, dan seketika tidak santai lagi. Kubekap mulutku sendiri. Bego.... nanti Dilan pasti cengin mulu.
"Oh.. nona nyontek" dia tertawa.
"Hormat tuh yang bener" jawabku cuek dan kutinggalkan Dilan segera ke kantin.
Anjay bajay sinjay...
Seneng udah bisa ngliat , ngobrol nggak mutu, tapi seneng... sumpah bahagia banget.
.
.
.
"Ayah ada meeting, tadi ayah lupa masak" kata ayah saat aku ngerjain Pr. Rajin? Nggak!. Kan nanti sore mau nge-date. Eh.. nonton konser maksudnya.
"Nanti aku makan sama Dilan aja " jawabku.
"Ayah nanti kayaknya pulang malem deh"
"Trus aku gimama dong yah?, masak dirumah sendiri malem malem"
"Ajak temen kamu bisa kan? Nisa?"
"Oh.. iya. Coba deh nanti aku hubungin"
"Ayah berangkat ya"
"Iya ayah"
Ayah mencium keningku, dan segera pergi dengan mobilnya.
.
.
"Niissssss nanti tidur di rumah aku ya" suaraku via telfon.
"Apa?kresek..kresek"
"Ya Allah , tu hp buang aja sana suara keras gini nggak denger"
"Apa?"
"Kuping lo tu ya, NANTI TIDUR DIRUMAH GUE YAAAAA" Keras, keras dah tu.
"Emang aku budeg apa, ngomongnya pake melodi dong. Fales suara lo. Cempreng"
"Anjayy.... "
"Iya.. bisa. Tapi mau nonton konser doloo"
"Aku juga "
"Hahh? Sama siapa lu??"
"Dilan"
"Apa? Dilan?"
"Nggak usah kaget gitu kalee. Yang kaget harusnya aku dong. Jalan ma siapa?"
"Bang A"
"Andayyyyy banget luu..."
"Kenapa?"
"Bukannya Bang A, udah punya pacar?"
"Udah putus. Hihihi"
"Girang amat , jangan jangan..."
"Ya enggak lah Cha, aku bukan PHO!!!, bang A mutusin cewe nya karna cewe nya pergi ke Samarinda"
"Oh.........Samarinda itu yang asalnya tari saman itu ya?"
"Bego banget sih lu, itu mah Aceh"
"Ohhh.. iya , lupa"
"Ah... males ngomong ama lu.. nanti ketularan bego "
"Jrittt... hahaha.. "
"Bye"
"Bye"
Klik.
.
.
.
Habis mandi ku terus dandan, karna mau ketemu Dilan, habis dandan makan cemilan, nunggu datangnya sang pujaan.
*lagu apa itu?*
Aku nggak dandan sih, orang nggak bisa. Aku pake jeans hitam, kaos warna violet. Pake blazer cream, sneakers, rambutnya aku wavy. Maunya sih di ombre biru, eh nggak boleh sama Ayah. Yaudah deh...
Kring kring!!
Suara sepeda, pasti Dilan.
Ku segera keluar, subhanallah....
Seorang laki laki yang kamu suka ada di depan rumah, pake jeans, kaos coklat , sneakers, sama topi. Anak SMP yang keceh... :*
"Woiii.. ngliatin akunya jangan lama lama, diabetes nanti"
"Siapa juga yang ngliatin" segera ku tutup pintu, menghampiri Dilan. Sepeda Dilan kan Ada Dua 4 pedal. *tau sepeda yang aku maksud? Di tau tauin aja dah*
Aku duduk di sedel belakang, kan mulai menginjak pedal beraturan dengan Dilan. Jujur saja.. di jaman sekarang, anak SMP lebih suka memakai motor. Tapi Dilan suka sepeda. Seperti bundaku, kata ayah dulu bunda suka makan puding delima, yang termasuk makanan kesukaanku juga. Bersepeda aku tidak terlalu sih . Dan bunda suka sama Ferry. Siapa itu aku lupa.
"Hei,"
"Ohh.. hei kenapa?" Dilan membuyarkan lamunannku.
"Mau makan apa?"
"Bebek goreng, pake kentang goreng + pepsi"
"Busyeeett... beli dimana tu?"
"Haha.. becanda kali Di, terserah kamu aja. Aku kasih tau ya.. cewe tu nggak suka ditanya"
"Yaudah.. deh"
.
.
"Mas mas.. ,sushi yang ini 2, trus money bag-nya 1, latte mocca 2, trus dorayaki"
"Dorayaki?" Pelayan sempet bingung.
"Itu lho makanannya doraemon, yaudah deh mas.. kalo nggak ada. Apem aja *makanan jawa bentukknya mirip dorayaki*"
Si mas mas pelayan mengangguk, entah ada atau tidak si masnya mengangguk. Aku tertawa.
"veak.. dorayaki? Emangnya ada di menu? Apem? Gokil.."
"Biar mas nya bingung"
"Dosa lo.."
"Lebih dosa lagi kalo aku minta pempek, siomai bandung sama mie ayam disini"
"Veak lu mah Di"
"Biarin, veak gini kamu suka kan?"
Deg. Tawaku terhenti. Menatapnya. Dia pun sebaliknya. Kemudian dia segera sibuk dengan mp3 kecilnya ysng menyalur pada earphone.
"Kita masih SMP Di, tapi aku udah suka sama orang... orang itu kamu Di. Kamu Dilan" kataku pelan sambil menunduk berharap Dilan tak mendengarnya.
"Ya kalo SMP kenapa?" Tiba tiba nyahut aja. Busyet denger?
"Aa.. eemm eeuummm, nggak papa"
"Oh.., yey.. udah dateng makanannya"
Alhamdulillah.. Dilan ngga denger.
"Apemnya mana mas?"
"Nggak ada dek, yang lain?"
"Haha.. nggak mas. Becanda, nggak usah tegang gitu. Aku nggak gigit kok"
Mas pelayannya terkekeh, dan pergi. Mau makan dulu ya-.
.
.
.
"Ada simple plan, dan thirty secon to mars sebagai tamu utamanya, masih setia nunggu?????" Kata Andika Pratama sebagai host.
Iyaaaa donggggg... koor.
"Nah sekarang ada penanpilan dari siapa nih sya?"
Andika pratama sedang berbicara pada Tasya Kamila.
"Eummm... mana suaranya buat seila on seven?????"
Ooooiiii.. koor lagi.
"Ini dia, seila on seven 'yang terlewatkan'"
Dan dentungan intro mulai terdengar, semua bersorak sorak.
.
.
.
==END==
Rain Part 20 Belum Rilis :D ... Follow Blog Kami Melalui Email Jika Ingin Mengetahui Updatenya