Pratama
Pratama › Cerpen

on Friday, 18 September 2015

Rain Part 15


Part 15 [ Not Great ]



Oh Tuhaaannn.
"No." Aku tersenyum menjauh. Membuat wajahnya menjadi datar.
"Sure?" Tanyanya sekali lagi.
"No if not with you. Yes i will" aku segera menuntaskan semuanya. Dan memeluknya erat. Aku sekarang mencintaimu. Mencintai kalian berdua. Suara sorak dari semua orang membuatku tambah bahagia. Herdin sungguh manis . Dia laki laki yang aneh, lucu, tampan dan baik. Aku tak melebih lebihkannya, dia memang seperti itu. Coba saja kau di posisi ku. Kau pasti juga akan beranggapan seperti itu. Tapi terserah apa bila kau tak suka. Jadi kita tidak perlu bersaing untuk mendapatkan Herdin.
.
.
Flashback off..
.
.
Kau tau kan aku punya butik? Fiting bajunya so pasti di butik aku. Rancangan gaun terbaikku, akan ku kenakan seminggu lagi. Andai saja kau melihatnya Fer. Ah.. sudahlah, kau boleh beranggapan aku seperti apa. Itu hak mu. Tapi ingat, jika kau berada di posisiku saat ini kau pasti akan lebih bingung. Aku mencintai Herdin. Begitu pula dengannya. Dan jangan tanya kenapa aku masih mencintai Ferry.. ku mohon jangan tanyakan itu. Karena aku tak tau jawabannya.
.
.
Author POV
Rain menggunakan gaun rancangan terbaiknya. Atasannya seperti kemben dengan bawahan yang sungguh indah berwarna cream. Atasannya berbunga mawar violet yang cantik. Bawahannya jatuh memberi kesan yang anggun. Rambutnya di tata sedemikian rupa dengan hiasan kecil di pinggirnya. Tangannya dibalut sarung tangan putih transparan. Dia cantik .
Pengantin pria memakai jas desain-an Rain juga yang paling istimewa berwarna cream dengan dasi kupu kupu. Rambutnya ditata klimis tapi tidak menghilangkan kesal cool-nya. Wauuhh.... best couple.
.
Rain meminta agar Pernikahannya tidak terlalu mewah, namun berkesan. Tema yang diangkat adalah Violet & Purple Rose.
Disana semua teman, kerabat dan rekan kerja masing masing datang dengan penuh suka cita. Rain keluar dengan membawa bucket mawar violet. Berjalan dengan anggun menemui sang calon mempelai. Keduanya sudah melakukan ijab qobul tadi pagi. Sekarang adalah acara resepsinya. Serangkaian acara berlangsung dengan kidmad . Sampai tiba di acara pelemparan bucket. Dan bucket itu tertangkap oleh seorang laki laki berjas hitam. Rain menoleh.. dia Deva.
Deva tersenyum pada Rain memberi bahasa tubuh bahwa ia berterima kasih atas bucketnya. Rain mengangguk dan ikut tersenyum. Dalam batinnya " semoga kau segera menikah dengan gadismu" .
.
.
Hari harinya kini sangat berbeda. Bangun pagi, sholat subuh dengan Herdin, membuat sarapan, dan berangkat kerja bersama.
Sudah hampir 4 bulan ini Rain menjalani rutinitas sebagai seorang istri. Apa kau ingat tentang buku tebal Rain?
lembar demi lembar buku itu sudah terisi , semua kejadian detail sekali Rain tuliskan pada buku itu. Semua. Tentang Surat dari Ferry, kartu ucapan valentine dari Ferry, kehilangan Ferry untuk selamanya hingga hidup Rain mulai didatangi oleh seorang Herdin.
Rain sadar kini dia bukanlah remaja SMA lagi yang masih seperti anak kecil yang cengeng. Sungguh Rain kini banyak berubah, yang pasti lebih dewasa, lebih cantik, dan lebih rajin.
Kau ingat Rendy? Ya.. adik Rain.
Kini dia sudah lulus SMA. Dan kuliah di Canada. Dia menjadi pemuda yang amat tampan, cerdas dan baik. Ia sudah putus dengan Resti sejak kelas 2 SMA Karena Rendy banyak digosipkan dekat dengan banyak gadis. Padahal tidak. Ya sudahlah ya.. dia ganteng banget sih.
Kembali ke Rain.
Oh.. iya, 1 minggu yang lalu Rain datang ke dokter. Memberikan banyak keluhan dari susah tidur, sering mual dan pusing, sering mendadak mimisan, cepat lelah hingga tiba tiba pingsan. Rain sungguh binggung dengan kondisinya saat ini, hingga ia hanya berkerja dirumah dan menyuruh asistennya untuk mengurusi butik.
Ada berita baik dari semua keluhan Rain, dokter bilang bahwa Rain hamil, Rain dan Herdin sungguh bahagia mendengar berita itu. Tapi disisi lain ada berita buruk tentang kondisi Rain. Rain mulai menampakan adanya gejala gejala penyakit Leukemia. Leukemia?? Iya... Penyakit yang sangat berbahaya itu datang menyerang tubuh mungil Rain. Seketika saja kebahagiaan Rain Dan Herdin terenggut oleh penyakit mematikan itu. Harapan satu satunya adalah bayi Rain tetap sehat dan Rain juga pastinya.
Untuk akhir akhir ini Rain sering kali mengurung diri , tidak banyak keluar walau hanya untuk membeli sayur. Rain kini mempunyai pembantu rumah tangga , belum lama sih. Mbok Tutik namanya.
Herdin yang mengerti keadaan istrinya tersebut mulai mengurangi jam kerja-nya. Sebisa mungkin menghibur sang istri.
.
Sudah 9 bulan Rain mengandung, tapi kebosanan akan suasana rumah membuat Rain menyibukan dirinya dengan berfikir keras untuk menciptakan desain desain baju yang epik. Saat ia menyuruh mbok Miem untuk mengambilkan arsipnya ia ingin mengambil air minum di bawah, tiba tiba rasa nyeri begitu dahsyat menggerogoti kepala Rain.
"Ahhh.. sakit,, " desis Rain memegangi kepalanya. Cairan merah segar keluar dari hidung Rain menetesi bajunya. Sungguh itu sakit sekali.
"Mbok" rintih Rain merasa sakit di kepalanya.
Terdengar suara langkah samar simbok yang datang.
"nyonya...." suara samar itu kembali terdengar namun lebih pelan. Rain mulai merasa berat di kepalanya. Tubunya lemas dan lunglai. Pandangannya semakin kabur .Dan
.
Bruukk
.
"Mbok... tadi gimana sih kok bisa gini?" Tanya Herdin pada simbok di luar ruang UGD.
"Anu.. tadi nyonya nyuruh saya ambil buku desain, trus nyonya turun ke lantai bawah, tau tau nyonya manggil saya sudah dengan tubuh lemas, mimisan dan akhirnya pingsan" jawab mbok miem sambil meremas remas tangannya sendiri.
Herdin hanya diam , matanya menerawang jauh. Menutup matanya sejenak, berfikir positif apapun yang akan terjadi berharap semua akan baik baik saja. "Rain.. aku rela menggantikan penyakitmu. Sembuhlah.. " guman Herdin yang entah sejak kapan meneteskan air mata. Kau jangan bilang Herdin cengeng!, siapa yang tidak menangis melihat seseorang yang amat dicintainya terbaring di ruang UDG dengan selang oksigen di hidungnya, selang infus di tangannya, alat alat medis itu mengelilinginya, dan juga ditemani monitor elektrokardiogram yang selalu bersuara sekaligus menunjukan garis denyut jantung Rain.
Herdin berjalan mondar mandin dan sesekali mengintip dari kaca bundar dari luar.
.
"Rain." Desisnya sambil memegangi tangan dingin Rain. Manik matanya menatap wajah pucat seorang Rain, mata mbok miem sudah sembab dari tadi ikut merasakan sakit yang dirasa Rain .
"Sabar tuan, saya yakin nyonya pasti sembuh" mbok miem ikut duduk di seberang ranjang.
"Iya mbok. Rain pasti sembuh" diciumnya tangan sang istri, mengelus elus perutnya dan berbisik "ibumu pasti sembuh nak".
.
"Keadaan nyonya Rain sudah sedikit membaik, tapi apabila tidak segera dilakukan pencangkokan sumsum tulang maka penyakitnya kemungkinan memburuk" jelas Dokter yang membuat Herdin tambah gelisah. Herdin menjambaki rambutnya.
"Jadi harus gimana dok?" Jawab Herdin terdengar parau.
"Kami sulit mengambil tindakan karena nyonya Rain sedang mengandung. Jadi harus menyelamatkan salah satunya" kata dokter turut prihatin dengan keadaan Rain sekarang.
'Ya Tuhan, cobaan apa ini??' Batin Herdin yang tak henti hentinya terfikirkan.
.
.
Sudah 4 hari Rain di RS, matanya mulai terbuka dengan kedipan berkali kali. Dilihatnya semua orang mengelilinginya bak ia adalah gula tang diintari oleh banyak semut.
"Sayang" suara khas mama Rain memeluk erat putri sulungnya itu.
"Kak.." suara berat Rendy terdengar asing di telinga Rain, ia memandangi Rendy cukup lama untuk benar benar mengenali adiknya itu.
"Kamu pulang? Kuliahmu?" pertanyaan Rai yang tidak dijawab Rendy, tapi disambut tangisan oleh Rendy. Dan segera memeluk kakaknya ini.
Sebentar, Mama dan Rendy dapat memeluk Rain dengan leluasa? Bukankah perutnya buncit?
"Kenapa dengan perutku? " pertanyaan yang memilukan tersampaikan disaat Herdin baru saja memasuki ruangan. "Mana suamiku? Mana bayiku? Manaaa...??" Rain memegangi perutnya yang sudah tidak berisi seorang bayi yang selama ini dinantikannya. Tangisan histeris itu membuat Herdin mematung. Dia diam seribu bahasa.
"Kenapa semua diam... Manaa bayiku??????" Rain berusaha bangkit untuk mencari bayinya. Tapi dicegah oleh Randy.
"Rain dengerin aku" pinta Herdin lembut sambil mengusap usap rambutnya.
Isakan sakit itu masih belum mau berhenti,
"Bayi kita sudah di surga, dia tersenyum. Dia perempuan" bisik Herdin pelan di telinga Rain yang membuat jeritan pilu Rain semakin menjadi jadi.
Semua keluar meninggalkan Herdin dan Rain sendiri dalam ruangan itu.
.
"Kamu habis operasi, jangan banyak gerak " kata Herdin yang membuat Rain tercengang.
"Operasi apa?" Tanya Rain menghentikan suapannya.
"Sumsum tulang belakang" jawab Herdin dengan raut wajah yang sulit diartikan. Bukankah Tranfusi Sumsum tulang belakang harus cocok? Diapa yang mendonorkannya?
"Siapa Sayang??" Tanya Rain penuh selidik.
"Mbok Miem" jawab Herdin dengan sangat pelan dan menunduk.
Rain hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan Herdin. "Apa??Ya Tuhan banyak sekali orang yang menyayangiku. Merelakan hidupnya demi kesembuhanku, Ya Tuhan berikan surga-Mu pada nya . Terima kasih mbok, terima kasih. Aamiin"Batinnya. Tangisan haru bercampur dengan sedih itu sungguh memilukan. Bagaimana tidak? Seorang mbok miem yang baru mengenal Rain 1 tahun yang lalu rela memberikan simsum-nya untuk Rain yang notabene majikannya sendiri.
.
.
.
Flashback on.
.
Mendengar percakapan yang sangat serius antara Herdin dan Dokter membuat mbok miem menangis sejadi jadinya. Tapi ia segera menutup mulutnya menahan isakan yang mungkin saja akan terdengar oleh dua pria didalam.
.
Setelah keluar, mbok miem ingin bicara dengan Herdin. Mereka bicara di taman RS.
"Tuan.. saya ingin bicara" mbok miem menelan ludahnya memantapkan niatnya.
"Iya mbok. Kenapa?"
"Nyonya Rain butuh tranfusi sumsum?"
"Kok mbok miem tau?"
"Maaf tuan, saya tadi mendengar percakapan tuan dan dokter"
"Oh.. iya. Dan jarang sekali sekarang untuk mencari pendonor" Herdin menjambaki rambutnya sambil menunduk.
"Saya bisa tuan"
"Apa?" Herdin tiba tiba mendongak.
"Iya tuan, saya mau jadi pendonor sumsum saya"
"Nggak mbok"
"Saya mohon tuan, saya sudah tua. Banyak sekali dosa saya semasa hidup. Saya ingin sekali saja berbuat baik. Yang insya allah akan memudahkan jalan saya" pinta Mbok Miem.
"Nggak mbok, mbok miem terlalu baik"
"Tidak tuan, saya manusia biasa yang pasti punya dosa. Mohon tua bantu saya"
"Tapi mbok, harus cocok"
"Iya tuan, maka dari itu saya siap di cek"
"Simbok yakin?"
"Iya tuan , insya allah yakin"
Herdin memeluk simbok dengan penuh terima kasih.
.
Almrh. Mbok miem di kediamkan di samping makam miskram putri Rain.
.
Flashback on.
.
.
.
.
Pagi ini Rain meminta Herdin untuk menemaninya untuk pergi ke pusara mbok miem dan putrinya.
.
"Sayang.." Rain mengelus elus pusara putrinya. Menaburkan bunga mawar dan berdoa untuk mbok miem dan putrinya.
"makasih mbok" Rain mulai berdiri, dan beranjak pergi dari pemakaman itu.
.
"Sayang.., aku tidak bisa punya anak?" Tanya Rain pada herdin saat menonton acara di TV.
"Hmm, kita bisa adopsi" jawab Herdin dengan nada pelan.
"Adopsi?" Rain mengernyitkan dahinya.
"I-iya" jawab Herdin tersendat.
"Dimana?" Tanya Rain.
Herdin menggeleng, membuat keantusiasan Rain menjadi Down.
"Kita cari tahu besok. Tidur dulu. Kamu harus istirahat. Jaga kondisi badan kamu" Rain mengangguk, Herdin mencium kening Rain dan Rain beranjak tidur.
.
.
.
==END==
Part 16 Next Post