Pratama
Pratama › Cerpen

on Friday, 18 September 2015

Rain Part 18

Part 18
 Fanspage : Khayalan

Tapi tak lama kemudian, dia mendengar suara gelas jatuh dari arah Dapur.
"Sayang... " panggilnya.
Dan setelah 5 detik panggilannya tidak terjawab, Herdin segera berlari menuju dapur, dia mendengar teriakan Rain..
Herdin sampai di dapur dan mendapati istrinya terduduk dengan kepala menyandar dinding. Dan keluar cairan merah yang sangat banyak. Herdin yang tak tau apa pun tentang hal medis itu tanpa ba bi bu langsung membopong Rain menuju mobil dan bergegas melajukannya.
.
.
Rain sekuat tenaga mengeluarkan bayinya itu, karna pendarahan yang sangat hebat membuat bayinya harus segera di keluarkan. Bukan cuma Herdin, papa dan mama Rain, Aji, Gritte, Eta dan Hamid menunggu di luar ruang persalinan. Hingga akhirnya terdengar suara tangisan seorang bayi yang memecah keheningan diantara mereka. Herdin langsung membuka pintu, dan.
"Sayang......" Herdin berlari dengan air mata yang sudah berlinang dari tadi.
"Bangunn....." teriak Herdin semakin kencang, sambil menggoyang goyangkan tubuh Rain.
.
.
...
Herdin Pov
Pusara istriku kini sudah sepi. 1 tahun sudah aku ditinggalnya di surga sana. Ku letakkan bunga mawar violet kesukaannya diatas nisan hitam marmer. Doa doa yang tulus inilah yang kini hanya bisa kuucapkan setiap hari. Kau tau kan sayang? Berbiku? Aku sangat mencintaimu. Walau ku tahu hingga akhir hayatmu kau juga masih mencintai Ferry. Aku tak peduli itu.
Aku menyayangimu. Juga anak kita.
.
.
Aku memang tak mempunyai baby sitter ato apalah itu.. aku ingin 90% merawatnya. Ya yang 10% ku serahkan pada istri Rendy yang juga punya bayi.. ya kau tahu kan? Bayi juga butuh ASI. Dan aku tidak punya.
Oh ya. Rendy sudah menikah . Dengan gadis Aceh.. jaoh amat.
Cut Rina Amarta. Ya panggil saja Rina. Ya cukup kengingatkanku bahwa Rina Dan Rain, kata kata hampir saja membuaku meleset saat menyebutnya, ya padahal cara baca pun beda. Ya sudahlah..
.
.
"Pak buku anda ada di Gram*dia menjadi best seller dalam penjualannya" kata sekretaris ku, Alfiana namanya.
Ya jujur saja jadi penulis sungguh membingungkan, ya aku tidak bisa menjelaskan. Coba saja, nah kau akan segera tau level level kepusingan.
Bla...bla...bla...
"Kau boleh keluar sekarang" kataku sopan. Ya kurasa itu sopan. Tapi entahlah... coba ajari aku bagaimana cara mengusir orang dengan lembut?.
"Iya pak" katanya.. , dia mulai berdiri membereskan map map pelangi. Maksudku warna warni. Ya.. map mapnya banyak.
Belum sampai pintu dia kembali menengokku. Sepertinya ingin bicara tapi ya akhirnya bicara juga.
"Pak nanti sore saya boleh main kerumah Icha?" Pelan sekali , untuk telingaku tidak congak.
"Hmm.. unt?- ya boleh" ya kenapa tidak boleh?
Kuambil buku tebal milik-Rain. Yang jujur saja selama ini aku belum pernah membukannya..
Ku usap debu halus yang menempel pada covernya, dan.. itu foto Rain. Ya baru kali ini memang kulihat.
Ku buka buku itu lembar demi lembar. Sungguh mulutku terkatup. Mungkin ini adalah sebuah buku termahal didunia *ya itu menurutku* yang sangat bermakna setiap katanya,tuturnya,nasihatnya. Dan itu kisah cinta Ferry ,Rain dan Aku. Aku sungguh tak tau harus berkata apa, Ferry sungguh mencintai Rain. Rain pun sebaliknya. Dan aku datang, Aku mencintai Rain. Ya tuhan rumit sekali ini untuk dijelaskan...
Keringatku bercucuran setelah selesai membaca buku sejarah itu. Aku tak tau kenapa? Aku masih cemburu bila melihat kata kata Ferry kepada Rain di buku itu. Kau tidak bisa menghakimiku.. coba saja bila tak percaya.
.
.
.
Ku jemput Icha. Putriku. Dari rumah Rendy dan Rina.
"Ulu..lu.... yuk ikut ayah" ku gendong gadis kecilku pelan . ya, dia mau bobo.
"Mas.. tadi ada temennya mas Herdin datang. Trus ngasih baju ini ke dede Icha." Kata Rain. Eh.. Rina maksudku.
"Siapa?"
"Kalo nggak salah namanya Ana"
"Ohhh... Alfiana?"
"Iya...,"
"Itu sekretaris kerjaku, dia kapan ngasihnya?"
"Tadi pagi setelah Mas baru aja pergi"
"Ohh..."
Ohh.. iya bukannya Ana mau main kerumah? Aku lupa.
"Pulang dulu ya Ren, Rin."
"Iya mas. Hati hati" kata Rendy.
.
.
.
Ku letakkan Icha kecilku di ranjang goyangnya. Ku memilih ranjang dari rotan karena bisa ditaruh di mana mana. Bisa selalu aku awasi.
"Minum apa?" Tawarku. Sudah sopan kan?.
"Nggak usah Pak. Tadi sudah"
Ku tersenyum. Tetap saja kubuatkan mocca , ya kurasa dia butuh sesuatu untuk melewati kerongkongannya. Oh iya aku masih punya puding delima tadi pagi. Buatanku. Ya... Rain yang ajarin.
"Nih.. diminum , dimakan yang kenyang" candaku.
"Makasih Pak" dia pun menyesap mocca buatanku.
"Katanya nggak mau" kataku pelan meliriknya tersenyum. Dia pun terlihat salah tingkah, dan kurasa dia gugup.
"Ehh.. hmm.. hhmm " ku dengar suaranya malu.
"Haha.. aku hanya bercanda. Makanlah , itu buatanku"
"Buatan? Bisa masak pak?"
"Bisa dong, dulu almarhumah istri saya yang ngajarin saya"
"Ohh"
"Oh iya,makasih bajunya buat Icha. Repot repot"
"Yaa. Sama sama pak. Nggak repot kok pak" dia tersenyum menampakkan dua gingsulnya. Cantik . Tapi Rain punya lesung pipit. Lebih cantik. Kalo ibarat Ana adalah bidadari dari khayangan. Rain adalah bidadarinya bidadari. Hehe..
.
"Pak, maaf.. apa saya boleh bicara?"
"Haha, bukannya sudah bicara dari tadi?. Bicaralah.."
"Hhmm...anu pak,, memangnya anda tidak berniat mencarikan ibu untuk Icha?" . Bukan kenapa kenapa sih. Coba telaah deh kata katanya. Mencarikan ibu? Lhoh.. ibu kok dicari, kalo nggak ada ibu mana ada Icha?
"Rain ibunya, nggak usah dicari. Udah ketemu"
"Apa pak?udah ketemu??" Dia berbicara lebih keras. Hei ada yang salah dengan ucapanku kah? "Maaf pak."
"Iya.. nggak papa. Pelan pelan aja, nanti Icha bangun"
"Maaf pak"
"Iya"
"Tadi bapak bilang sudah ketemu. Siapa pak?"
"Oh... udah ketemu dong. Ibunya Icha kan Rain. Udah lama dong ketemunya.. hehe"
"Oh.. kira udah punya calon" gumannya. Hei.. kalo mau nge-guman pelan aja. Tetangga kedengeran.
"Calon apa?"
"Hmm.. calon istri"
Aku tersedak puding delima yang baru saja masuk ke kerongkongan dan lubang tenggorokannku membuka. Tersedak dehh... ih apaan sih aku ini.
"Apa maksudmu? Istri? Aku sudah punya istri."
"Iya pak. Bu Rain Audrey Hermawan. Tapi beliau sudah meninggal pak" katanya dengan nada yang tidak aku sukai. Kenapa raut wajahnya tiba tiba kesal. Heii.. bukannya seharusnya aku yang kesal.
"Kenapa memang kalau istri saya sudah meninggal?"
"Yang jaga Icha?"
"Saya dong"
"Yang ngrawat Icha?"
"Saya, kenapa kamu bicara seperti orang marah?. Kamu marah pada saya? Kenapa?"
Wajahnya kini memucat gugup. Aku melihat gerombolan bulir bening di ambang ambang. Dia terkisap memelukku . Isakannya ... aku sudah lama tidak melihat orang menangis kecuali Icha. Dan aku ingat pada Rain.
"Saya mencintai anda pak, kenapa anda tidak pernah tau? Kenapa di hati bapak hanya ada bu Rain? Kenapa anda tidak mengerti pak?" Sumpah ini blitzkrige.
"Pak saya setiap hari menengok keruangan anda . Meminta arsip arsip yang tak penting dari anda hanya untuk sekedar bertemu"
"Saya sayang pada Icha pak"...
.
Author Pov
Ana menangis di bahu lelaki tampan dan jakung berbadan tegap itu. Herdin hanya diam.
Menyeka air mata sekretarisnya itu. Membuat mata mereka bertemu. Herdin menjauhkan wajahnya, berdiri dan mulai pergi. Kedalam.
Meninggalkan seorang perempuan yang menangis itu. Tak lama kemudian datang. Membawa alat gendong , dia menggendong Rain yang masih tidur. Menatap Ana. Tajam sekali.
"Ayo pulang, sekarang sudah malam. Disini diadakan ronda malam. Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu. Walau kita memang tidak melakukan apa apa"
Ana hanya diam. Menuruti kata Herdin. Mengambil tasnya dan beranjak keluar. Laju mobil Herdin pelan karena Dia menggendong Icha.
.
.
Pagi ini Herdin tidak berangkat. Dia ingin mengajak Icha jalan jalan.
"Putri ayahh.. cantik... " memakaikan topi. Ya , umurnya sudah 1 tahun. Sudah bisa berjalan walau tak lama. Tetap saja maunya pake kereta.
Icha Arinda Herdiawan. Dia mirip sekali dengan Rain. Mempunyai Lesung pipit. Giginya yang masih kecil kecil membuatnya lucu.
"Ayahh..... , "
"Iya...? Mau apa?"
"Mau es klim"
"Nggak bolehh... masih kecil. Nanti pilek" mencubit hidung anaknya itu.
Menampakan Raut wajah murungnya. Ah.. Lucu deh pokoknya. Kek Author. *weekkss*
.
.
.
"Ayahh... , dasiku mana ya?"
"Tuh di atas TV, besok lagi... narohnya di atas bak mandi ya"
"Oke..."
"Ayahhh..... ayo berangkat nanti aku telat. "
"Iya.. iya"
Mobil Herdin melaju ke sekolah Icha. Smp 3 bakti. Sekarang Icha sudah menjadi remaja kelas 2 SMP. Cantik banget. Yakin deh di sekolah pasti punya pacar.
Cittt
Mobil Herdin sampai juga depan gerbang. "Assalamu'alaikum ayahhh" mencium punggung tangan ayahnya itu.
"Waalaikum salam, belajar yang bener. "
"Ehhmmm... nggak ah, belajarnya kadang kadang aja"
Herdin nampak aneh. Dan seketika Icha ketawa.
"Becanda kali yah.... hehe. Dag.. ayahh" melambaikan tangangan nya .
.
.
"Eh.. Cha, kamu ikut olimpiade Sains"
"Ahh... yang bener?"
"Iyaa... bener. Tadi aku denger sendiri waktu Bu Asri nggobrol di ruang Kepsek"
"Yahhh... cape dehh"
"Kok lemes?"
"Capek Nis, ngerjain tugas aja iya kalo mau. Kalo nggak ya nggak.. gini kok ikut olimpiade"
"Heii.. lumayan, dapet sertifikasi buat masuk SMA 1"
"AHH.. yang bener ?"
"Ihhh... dibilangin." Nisa menjitak kepsla Icha. Icha pun membalas sampai akhirnya berhenti saat seorang temannya lewat di depan mereka.
"Tuh Cha.. gebetan lewat"
"Kamvret lu. Diem dulu..." bisik Icha karena Sekarang cowo itu mulai menoleh dan tersenyum. Dan kembali pergi.
"Kamvretttt.... nis. Dia pake senyum segala.. baper deh "
"Ganteng ya? Ngiler aku"
"Naksir ?" Icha memasang muka introgasinya.
"Kaga kali Cha... aku mah Mas Dika'an aja cukup" Nisa nyengir kuda.
"Dasar lu... dikaan mulu"
"Btw, ada kemajuan?"
"Kaga... dia kaga pekaan orangnya mah" dan Nisa pun mulai ngomel dengan bahasa sunda yang Icha sama sekali nggak ngerti.
.
.
"Heiii... "
"Hei.., " Icha menengok. Dan ohh.. si pujaan hati membawa kejutan. Ehmm.. nggak juga sih.
"Ap..pa?"
"Besok kan ada acara musicConcer. Mau ikut?"
"Aa?? MusicConcer? Ikut?"
"Iya"
"Nggak tau deh.. harus ijin Ayah dulu"
"Cuma sampe jam 8 doang Cha, kita pulang nggak lebih jam 8 deh. "
"Kita?"
"Iya kita."
"Temen temen kamu?"
"Aku sendiri. Mereka pada sibuk. Kamu mau kan? Mau dong plisss"
"Nggak tau Di, ijin Ayah dulu"
"Yaudah deh.. nanti kabarin aku ya" cowo yang dipanggil Di- tadi menyerahkan sobekan kertas berisi pin.
Dan pergi. Icha tersenyum mengembang, sungguh senyum yang benar benar bahagia. Sudah lama dia ingin meminta pinnya.. eh ngasih.
.
.
"Ayahh.." Icha mulai duduk di depan TV bersama Herdin.
"Kenapa?"
"Tadi Bu Asri bilang ke aku kalo aku diikutin olimpiade sains"
"Bagus dong"
"Tapi aku nolak"
"Nolak? Kenapa?" Herdin mengecilkan volume Tv dan mulai menatap putrinya itu.
"Aku cape"
"Cape kenapa?"
"Ehhmm.. aku kan ikut Taekwondo, ada les, OSIS, Parkira, Dewan Penggalang . Kan banyak Yahh...." Icha mulai menunjukan wajah melasnya.
"Oh... yaudah . Tapi kalo kamu ikut uang saku bisa nambah lho.. yah. Kamu nggak ikut, nggak jadi tambah deh"
"Kok ayah nggak bilang!"
"Kamu sih.. mau diikutin malah nggak mau"
Icha mulai beranjak berdiri, menyahut remot ayahnya dan mengerasan volumenya. Dan langsung pergi ke kamarnya.
.
"Oh iya.. lupa. Harusnya tadi jangan marah dulu sama ayah....duhhh, pasti nggak boleh ikut conser dehh... ahg bodoo bangettt sehhh" kesalnya sambil membenarkan posisi mentimun di matanya.
"Bilang nggk ya?"
.
.
.
==END==
Part 19 Next Post