Pratama
Pratama › Cerpen

on Friday, 18 September 2015

Rain Part 10

"Rain . Aku mencintaimu. Kau ingin membuat ku bahagia? Iklaskan aku bila aku pergi. "
Itu surat kedua yang Ferry tulis di kertas origami warna jingga. Ferry menulisnya setelah 1 hari sesudah operasi pertamanya. Kau sungguh luar biasa Fer.
.
Ehhmm. Btw Ferry duluuu
sekali tinggal bersama keluarga yang harmonis. Seorang ibu yang baik. Ayah yang pengertian. Dan saudara laki laki kembar yang asik. Dan semua itu hilang sudah tak bersisa setelah orang tua Ferry bercerai karena problem rumah tangga yang tidak bisa diselesaikan baik baik (?). Ia tinggal bersama ibunya di Jakarta. Sedangkan saudara kembarnya itu tinggal bersama Ayahnya di Singapure. Biasalah, ayah Ferry pengusaha yang sangat sibuk, pindah sinilah pindah situlah. Saudara Ferry bernama Deva Ramadhan. Ya mereka lahir cuma beda 3 menit . Ferry yang lahir duluan. Kembar. Ya ampyunnnn ... ada 2 Ferry di dunia ini? (Ehemm.. Iqbaal = Ferry , Ferry = 2. Yang satu buat ane donggg. *hasyahh)
Pada tahun 2010, lebih tepatnya hari Jumat,15 September 2010 sang Ibu tercinta kembali ke hadapan sang Khalik, yang seharusnya datang pun ada dipemakaman itu, Ayahnya, Deva,dan tentu saja Ferry. Ibunya mengidap penyakit bronkitis akut. Hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Semua terjadi begitu cepat. Seperti baru lahir, menjadi anak kecil yang lugu, menjadi remaja yang bisa merasakan cinta, dewasa , tua, dan kembali pada sang pencipta. Itu siklus yang tidak bisa diubah. (*jaga ibadahnya gaes)
.
Oke kembali ke keadaan Ferry. Ferry masih bisa berbicara , melihat, bahkan menulis surat.
Hari ini dia ingin bertemu dengan Deva. Apartemen Deva tak jauh dari rumah sakit Ferry. Tak butuh waktu lama kini Deva sudah duduk di samping ranjang Ferry.
"Va, aku punya permintaan terakhir, maukah kau mewujudkannya?"Tanya Ferry dengan suara seraknya.
"Dont say that, kamu kuat Fer"
"Nggak Va, aku nggak kuat . Apa aku harus memohon dan mencium kakimu?" Wajah pucatnya kini sungguh ahhh...Ferry bertahanlah.
"Fer.. kau minta apa?" Akhirnya Deva meluluh. Tak tega melihat saudara satu satunya tergolek di ranjang rumah sakit ini.
"Tolong jadilah aku"
"Apa maksudmu? Untuk apa? Untuk siapa?" Deva mengernyitkan dahinya keheranan . Permintaan macam apa itu?.
"Tolong cintailah Rain" kini suaranya sangat pelan, sungguh sesak nafas Ferry sekarang. Apa sungguh Ferry jahat? Membiarkan Rain menunggunya, dan yang datang bukanlah dirinya . Melainkan orang lain. Yaitu Deva.
"Apa?Rain?siapa Rain?" Kini kepala Deva ikut pusing. Memikirkan permintaan yang sulit. Harus belajar mencintai seseorang yang tidak dikenalinya. "Bukan maksudku menolak Fer . Tapi aku juga mempunyai kekasih. Kekasihku di Jakarta" sungguh berat Deva menolak permintaan itu.
"Dia nyawaku Va, aku tidak akan mati . Aku hanya ingin kau menggantikanku selagi aku disini. Aku menyuruhmu mencintai Rain karena dia tau bagaimana aku, dia bisa mengenaliku lewat hatinya" kepalanya sungguh pusing. Memijit mijit pelan kepalanya.
"Sementara?"
"Iya"
.
Hari ini Deva dan Ferry menyiapkan sesuatu untuk Rain sesuatu yang tidak akan terlupakan. Namun begitu berbeda karena yang kelakukannya bukan Ferry tapi Deva. Sore pukul 14.45 Deva terbang ke Jakarta. Menemui Rain di acara Ulang tahun kota kelahiran Rain. Karena Ferry sudah tau bahwa Rain tidak akan berangkat ke acara itu. Maka dia menuliskan surat yang akan di bacakan di hadapan warga kota *itu adalah bagian rencananya* setelah Deva menyanyikan lagu permintaan Ferry. Avenged Sevenfold - Dear God.
.
Tapi kini otaknya mulai sakit lagi. Terlalu banyak yang dipikirkanya siang ini. Bak ribuan duri menancap di otaknya. Kini pikiran Ferry mulai kabur.. pandangannya sayu sayu samar. Dan Gelap.
.
3 dokter kembali membedah bedah isi kepala Ferry. Bahkan ada 1 tambahan dokter lagi yang datang dari Australia. Jadi ada 4 dokter. 1 pasien. Ferry bertahanlah. Kumohon.
Disaat bersamaan Dokter Tio mendapat telpon dari Rain. Menanyakan kabar Ferry. 'Insting yang luar biasa' guman dokter Tio sesaat sesudah menutup telpon.
Operasi kedua ini sangat lama.
.
.
.
Entah berapa jam operasi dijalani yang jelas kini operasi sudah selesai. Tubuh Ferry sekarang sangat lemah . Sudah berhari hari matanya tidak mau dibuka. Ayolah Fer..bangun..Rain sudah menggumu.
.
Sudah berhari hari. Bahkan berminggu minggu Ferry tak mau berbicara. Kau sehat kah Fer? Dokter bilang bahwa Ferry mengalami Rest Syndrome. Yaitu keadaan dimana orang akan mengistirahatkan semuanya kecuali pandangan mata , pernafasan Dan pencernaan. Tuli? Dikit.
.
.
Tapi apakah kau tau sudah ada 4 surat di bawah bantal Ferry. Ferry yang menulisnya . Siapa lagi kalau bukan untuk Rain. Semuanya berwarna warni. Kuning,hujau,biru,violet bila dihitung Ferry mempunyai 6 surat untuk Rain. Ia akan mengirimkan surat surat itu untuk Deva sebagai bagian dari rencananya.
Tak sampai 1minggu . Surat sudah ada di tangan Deva. Dan semua tergantung Deva . Dan warga kota.
.
Flash back off.
Deva menceritakan semuanya kecuali Rencana Special Ferry .
Kau tau bagaimana perasaan Rain?
Dia bangga kepada Ferry. Ia tak sedikitpun marah padanya.
"Aku sangat mencintai saudaramu Fer" Rain menelungkupkan kepalanya tapi terdengar isakan. Bukan pelan, lumayan keras.
"Ferry juga sangat mencintaimu. Maaf aku bukan Ferry. Aku Deva" jawab Deva yang sedari tadi masih di panggil Ferry oleh Rain.
"Maaf Fe... Deva" mengusap air matanya yang mengalir begitu dingin di pipinya.
"Aku mengerti perasaanmu. Maaf aku tidak bisa belajar mencintaimu seperti keinginan Ferry. Aku juga mempunyai seorang berbi. Dia juga sangat mencintaiku akupun sebaliknya." Deva menatap gadisnya di ambang pintu dia menangis mendengarkan perkataan Deva. Ia sedikit berlari menghampiri Deva dan berhambur di pelukkannya.
"Aku tidak mengharap kita untuk tidak mempunyai masalah,tapi aku berharap kita akan bisa saling bertahan dari masalah itu" bisik gadis itu di telinga Deva yang bisa di dengar Rain.
"Kalian sungguh ... hebat" kata Rain sambil mengusap air matanya. Menahan sebisa mungkin isakannya. Memberi tatapan sungguh tegar ke hadapan Gadis itu.
"Siapa?" Mata Rain melirik kedua bocah yang tertidur pulas di sofa.
"Mereka adikku , Gilang dan Asihisna" jawab Gadis itu.
"Hhmmm, siapa namamu?"
"Lia, Aprillia Ningrum Ambarsari" jawabnya
.
.
"Kau beruntung" lirik Rain tersenyum sebelum akhirnya Rain keluar. Membiarkan nafasnya bebas berhembus . Menutup matanya . Merasakan dinginnya malam. Merasakan desiran rindunya. "Aku Rain. Kau Ferry. Dan .... kita, akan mengisi setiap lembar buku itu dengan cerita kita" guman Rain seiring dengan suara jangkrik.
Rain tersenyum senyum sendiri membayangkan dia bangun pagi, menyiapkan sarapan . Memakaikan dasi Ferry. Memakaikan sepatu anaknya. Pergi ke aktivitasnya , menjadi Desingner . Pulang. Berkumpul . Bercerita. Bercanda. Tertawa. Sampai lelah hingga tidur nyenyak dan hingga tidak terbangun kembali.
Sungguh bayangan yang amat sederhana, tapi bahagia.
.
.
.
"Pagiii" teriak girang Rain membangunkan Deva , gadisnya , dan kedua bocah kecil di ruangan 3 × 3 meter RS yang cukup menggema. Heiii? Bukankah Rain nampak berbeda? Dia bahkan tidak terlihat seperti pasien RS.
"Kak Rain berisik" ucap bocah laki laki bernama Gilang itu sambil meliuk liukan tubuhnya.
"Heii... ini sudah jam 6.30" kesal Rain karna belum ada yang mau membuka matanya . Padahal lho.. yang sakit siapa. Yang masih molor siapa.
.
.
Deva langsung ke rumah Ferry. Lia juga langsung ke rumahnya di gang dekat cafè bersama Gilang dan Asih. Rain? Entah kemana dia sekarang.
Matanya membelalak di depan toko buku. Tidak besar tapi cukup lengkap. Dia membutuhkan buku buku Fashion terkini. Dia pikir desingner yang baik adalah disingner yang mengetahui selera juga model .
Ia masuk disapa hangat oleh penjaga toko.
"Selamat datang"
Rain tersenyum sopan sambil menggangguk. Wah.. ini yang dia cari. Refreshing yang membangun.
Ia berjinjit, flatshoesnya tak mampu membantu ketinggiannya. Bukunya ada di bagian atas. Ia mendesah berkali kali hampir jatuh.
Hingga ia melihat tangan mengambil buku incarannya.
"Hei itu milikku, aku sudah mengincarnya" kata Rain cukup keras yang membuat semua pengunjung memperhatikan Rain. Penjaga toko pun ikut mendongak.
Rain kini salting , malu dan pastinya kesal. Ya kalau yang diambil satu tidak papa lah . Soalnya Rain melihat tangan yang sama, mengambil 3 sekaligus buku incaran Rain. Dan semua tidak di ambil Rain karna faktor tinggi.
Ia mendesah, berjalan keluar memberikan tatapan sinis pada orang yang mengambil bukunya. Dia pergi ke taman kota. Merindukan berayun bersana Ferry di taman. Di tengah malam. Dulu.
.
.
Dia duduk di ayunan yang sama. Ayunan yang disampingnya adalah Ferry . Dan ..
Seorang laki laki tiba tiba saja duduk di samping Rain. Bukankah itu laki laki yang telah mengambil buku incaran Rain tadi? .
"Kenapa kau mengikutiku. Maaf aku tidak tertarik padamu, lebih baik pergilah" kata ketus Rain masih dengan tatapan yang sama seperti saat keluar toko tadi.
Laki laki itu menancapkan earphone di telinganya seolah olah tidak ingin mendengar ocehan Rain.
"Dasar nggak sopan" guman Rain.
Ekor matanya menangkap ujung colokan earphone laki laki itu. Tidak tertancap kemanapun. Wehh gila ni..
"Kau gila?" Tanya Rain agak tinggi.
"Kau yang gila" jawab laki laki itu, menyodorkan 3 buku yang diambilnya tadi. Kemudian pergi. Masih menancapkan Earphone tidak bersuaranya.
Dilihatnya buku itu. Ada kertas di atasnya .
Heiii.. kau gila? Aku hanya ingin mengambilkan buku itu. Bukankah aku baik? Tentu saja .
Ini hutangmu padaku
Rp 630.000,00.
Segera lunasi!!
Whatt??? Teriak Rain dalam hati.
Hmmm... dasar. Kira ikhlas.
.
.
Suara lagu dari Fergie- big girls dont cry menyelimuti sore Rain. Yang menemaninya melihat lihat isi bukunya .
I hope you know
I hope you know
.....
Its personal my self and I
.....
And Im gone i miss you like a child miss to their blanket , and i must gonna move on in my life..
Its time to be a big girl now
A big girls dont cry
Rain menyanyi nyanyi ringan, yah sudahlah.. Rain tak pandai bernyanyi. Jadi ya begitulah suaranya.
Tapi jangan ragukan Rain dalam masalah menggambar . Bheeuhh... awe some se kaleee..
.
.
"Hutangmu 630.000" Rain memikirkan bagaimana ia membayarnya. Uangnya hampir habis. Andai saja Rain membeli sendiri buku itu, paling hanya 300.000.
"Ini pemerasan. Aku lagi berhemat. Uangku nanti abissss" Rain ngomel ngomel sendiri nggak jelas.
"Pokoknya kalo ketemu aku bayar separuh doang. Sesuai harga buku lah" Rain tetap ngomel ngomel.
.
.
==END==
Part 11 Next Post