Aurel Amalia
Aurel Amalia › Cerpen

on Friday, 18 September 2015

Rain Part 11

Fanspage : Khayalan



Itu milikku, aku sudah mengincarnya" kata Rain cukup keras yang membuat semua pengunjung memperhatikan Rain. Penjaga toko pun ikut mendongak.
Rain kini salting , malu dan pastinya kesal. Ya kalau yang diambil satu tidak papa lah . Soalnya Rain melihat tangan yang sama, mengambil 3 sekaligus buku incaran Rain. Dan semua tidak di ambil Rain karna faktor tinggi.
Ia mendesah, berjalan keluar memberikan tatapan sinis pada orang yang mengambil bukunya. Dia pergi ke taman kota. Merindukan berayun bersana Ferry di taman. Di tengah malam. Dulu.
.
.
Dia duduk di ayunan yang sama. Ayunan yang disampingnya adalah Ferry . Dan ..
Seorang laki laki tiba tiba saja duduk di samping Rain. Bukankah itu laki laki yang telah mengambil buku incaran Rain tadi? .
"Kenapa kau mengikutiku. Maaf aku tidak tertarik padamu, lebih baik pergilah" kata ketus Rain masih dengan tatapan yang sama seperti saat keluar toko tadi.
Laki laki itu menancapkan earphone di telinganya seolah olah tidak ingin mendengar ocehan Rain.
"Dasar nggak sopan" guman Rain.
Ekor matanya menangkap ujung colokan earphone laki laki itu. Tidak tertancap kemanapun. Wehh gila ni..
"Kau gila?" Tanya Rain agak tinggi.
"Kau yang gila" jawab laki laki itu, menyodorkan 3 buku yang diambilnya tadi. Kemudian pergi. Masih menancapkan Earphone tidak bersuaranya.
Dilihatnya buku itu. Ada kertas di atasnya .
Heiii.. kau gila? Aku hanya ingin mengambilkan buku itu. Bukankah aku baik? Tentu saja .
Ini hutangmu padaku
Rp 630.000,00.
Segera lunasi!!
Whatt??? Teriak Rain dalam hati.
Hmmm... dasar. Kira ikhlas.
.
.
Suara lagu dari Fergie- big girls dont cry menyelimuti sore Rain. Yang menemaninya melihat lihat isi bukunya .
I hope you know
I hope you know
.....
Its personal my self and I
.....
And Im gone i miss you like a child miss to their blanket , and i must gonna move on in my life..
Its time to be a big girl now
A big girls dont cry
Rain menyanyi nyanyi ringan, yah sudahlah.. Rain tak pandai bernyanyi. Jadi ya begitulah suaranya.
Tapi jangan ragukan Rain dalam masalah menggambar . Bheeuhh... awe some se kaleee..
.
.
"Hutangmu 630.000" Rain memikirkan bagaimana ia membayarnya. Uangnya hampir habis. Andai saja Rain membeli sendiri buku itu, paling hanya 300.000.
"Ini pemerasan. Aku lagi berhemat. Uangku nanti abissss" Rain ngomel ngomel sendiri nggak jelas.
"Pokoknya kalo ketemu aku bayar separuh doang. Sesuai harga buku lah" Rain tetap ngomel ngomel.
.
.
.
Berminggu minggu kemudian.
.
.
Bunyi ketukan sendok dengan piring yang berisik menyeruak di telinga Rain. Padahal dia sendiri yang membuat bunyian bunyian itu. Nasinya masih utuh. Sering kali hanya meneguk air putih untuk mengaliri tenggorokannya yang tidak haus.
Kenapa aku ini? Gumannya dalam hati. Ketika semua detik kehidupan hanya terisi kegiatan kuliah. Dan . Sudah , hanya itu.
"Aku bosan." Desisnya. Ia memakai pakaian casual . Kaos warna peach dengan rok hitam selutut ia menggunakan sneakers abu abu. Rambutnya dikucir satu. Terlihat segar. Cantik pastinya. Ia segera menyahut tas kecil panjangnya. Melangkah menuju chocolate's Ree sebuah toko khusus coklat . Kau tahu? Besok adalah valentine day. Manik matanya menatap seluruh model coklat yang terpampang di etalase kaca panjang. Unik sekali. Dari semua bentuk yang menarik ekor matanya tertuju pada minni chocolate hill. Diatasnya ada pohon kecil yang dibuahi potongan almond. Heemm enak tuh..
Walaupun bentuk paling sederhana yang terpampang di etalase itu, tapi coklat itulah yang paling hitam. Rain sangat menyukai dark chocolate.
"Yang itu 2 ya mbak" Rain merogoh uang dari dompet di tasnya.
"Iya " kata mbak mbak penjaga toko.
Eh tapi bentar deh. Rain merogoh semua Random yang ada di tasnya. "Mana sih dompetnya" masih terus mencari. Tapi nihil.
"Semua jadi 120 ribu mbak" kata mbak penjaga toko memberikan plastik yang seharusnya diganti oleh rupiah dari Rain. Rain kini ingin sekali membeli itu. Tapi apa daya . Dompetnya ketinggalan.
"Mbak.. maaf--" Rain belum selesai tapi langsung dipotong suara berat di belakangnya.
"Ini mbak" laki laki jakung menyodorkan uang pas .
"Terima kasih,silahkan datang kembali" kata mbak penjaga yang ramah. Di jawab sopan oleh laki laki itu. Dan Rain memberikan tatapan heran pada laki laki itu. Plastik putih diatas tempat kasir dibawa laki laki itu dengan tanpa menoleh pada Rain dan langsung keluar. Diikuti oleh Rain.
"Heii" pekik Rain mencoba menyusul langkah laki laki itu.
"Heiii.. siapa kau?" Teriaknya lagi sambil berlari kecil. Sangat lincah dengan sneakersnya. Sampai akhirnya Rain berada tepat di hadapan laki laki itu. Nafasnya tersenggal senggal karena jarak keduanya tadi cukup jauh .
"Apa maumu?" kata laki laki itu.
"Heii , seharusnya aku yang bertanya. Apa maumu?" Wajahnya mendongak . Lho kok dia lagi?. "Kamu??? Kenapa sih ngikutin aku? Mau nagih hutang heh???" Sahutnya lagi.
"Kau yang kenapa, kenapa aku harus bertemu denganmu disaat kau pasti sedang kesusahan. Dan aku kenapa mau maunya membantumu" kata ketus laki laki itu.
"Hei, itu bukan salahku" selak Rain mencoba meraih plastik putih itu.
"Jelas jelas ini yang bayar aku. Ini milikku. Hutang bukumu belum kau bayar" teluknjuk laki laki itu memencet hidungnya.
"Itu stok terakhir. Di toko itu sudah tidak ada lagi" sanggah Rain " kau berikan aku harga 2 x lipat, dari harga buku itu. Aku hanya anak kuliah. Uang dari mana?" Selak Rain kesal. Ia mendesah. Memutar balikan posisinya "kau ingin coba memerasku?" Liriknya tajam.
Laki laki itu hanya tersenyum.
"Sekarang hutangmu 750 ribu, ini coklatmu" lagi lagi laki laki itu pergi. Rain berdecak kesal.
.
.
14 Februari
Matanya masih terkantup. Susah payah Rain membuka matanya. Entah mengapa matanya seperti dibebani besi baja .
"Jam berapa ini?" Rain menyadari jam wekernya belum berdering. Sekejam ia meliriknya.
"04.00" desisnya. Segera membuang selimutnya dan beranjak duduk. Menyadarkan sepenuhnya dengan menggoyang goyangkan kakinya yang menggantung.
Setelah ia sadar sepenuhnya . Ia beranjak untuk wudhu dan sholat subuh.
.
.
Rain mengerjakan pekerjaannya sebagai gadis pada umumnya di waktu pagi. Menanak nasi. Merebus air. Menyapu lantai. Mencuci piring. Tidak terlalu memperdulikan kuliahnya pagi ini. Dia sungguh malas untuk mendengar ceramah dari dosennya. Dan makan siang sendiri. *heii.. Rain masih belum mempunyai teman? Kau yakin? Dia cukup ramah bukan?
.
Tetap saja ia berdandan ala mahasiswa kuliah pagi itu. Meng
enakan almamater kebanggaan Universitasnya. Mengenakan sepatu sneakers hitam. Membawa sejumlah buku. Entah apa buku itu ia memasukannya asal.
Membiarkan rambutnya tergerai rapi. Menambahkan sedikit bedak agar membuatnya tidak terlihat malas. Dia mengambil sepedanya . Ia tau Jakarta pagi sungguh macet.
.
.
Mengayuh sepedanya hingga sepertiga jarak. Ia mendapati setiap orang di kompleknya berada di depan gerbang.
"Rain..!!"
"Rain"
"Selamat pagi, Rain"
"Pagi Rain"
"Rain"
Suara itu bersahut sahutan . Semua warga menyetop laju sepeda Rain. Setiap satu warga memberikan 1 ikat bunga mawar. Rain yang merasa bingung itu. Membalas merela dengan senyum serta menerima ikat demi ikat bunga sambil menuntun sepedanya. Hei kenapa juga Rain membawa sepeda itu? Sepeda berkeranjang. Entah mengapa, itu sangat membantunya. Ia menaruh semua ikatan bunga di ranjang depannya. Ia kembali melajukan pedal sepedanya. Tersenyum senyum sendiri. Sampai setengah perjalanan. Semua menyapa Rain serempak. Hampir seperti koor
"Selamat pagi Rain" .
"Iya, selamat pagi" ia sungguh merasa istimewa pagi ini. Rasa malasnya hilang. Ia kini bak seorang penjual bunga keliling yang memasuki perkampusan elit. Semua menatap Rain . Melihat Rain nampak seperti penjual bunga keliling. Rain tak perduli. Ia melangkah girang tanpa memperdulikan gunjingan gunjingan ringan dari mahasiswa lain.
.
.
Mata kuliah yang tadinya membosankan. Terasa amat ringan hari ini.
"Bunga bunga itu cukup membantu" gumannya sambil tersenyum . Dosennya sungguh galak pagi ini. Siapa peduli? Rain tidak akan macam macam.
.
.
.
Entah apa yang digunakan untuk memberi tahu bahwa sekarang jam pulang. Semua mahasiswa berhamburan keluar . Bukan karena Rain tidak mengetahui bagaimana cara pemberitahuan pulang. Tapi karena Rain Sedang tidak konsentrasi. Mungkin dia lapar, ia sempatkan membeli coffie cup di kantin. Ia duduk sendiri
"Belum mau pulang neng?" Tanya simbok sari, simbok kantin.
"Belum mbok. Di rumah sepi, simbok udah mau tutup?" Jawab Rain malas sambil menyesap kopinya.
"Belum kok neng. Biasanya sampe sore. Kantinnya kan deket jalan jadi banynak yang kesini" kata simbok sambil duduk di samping Rain.
"Oo.." Rain membulatkan bibirnya. " mbok mau makan. Baso satu ya"
"Sip" simbok tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.
Rain ikut tersenyum menyeringai sampai terlihat lesung pipitnya.
"Aku juga satu mbok" sahut laki laki jakung dan langsung duduk di samping Rain.
"Iya dik Herdyan" mbok sari tersenyum.
"haii" sapanya.
Ooo...jadi Herdyan namanya.
"Kamu lagi" decak kesal Rain. Entah mengapa Rain begitu membenci laki laki ini.
"Kenapa? Nggak suka? Takut aku nagih hutangmu?" Laki laki itu hanya terkekeh.
"Nggak lucu" waja kesal Rain itu lucu. Dia marah pun wajahnya tetap lucu. Baby face gitu.
"Oke deh.." dan setelah itu sudah. Mereka diam.
1 menit
2 menit
3 menit
Ayolah..... Rain masih sibuk mengotak atik ponselnya. Sedangkan laki laki yang dipanggil 'Herdyan' itu sibuk membaca buku. Bukunya tebal. Tittle-nya Reason. Rain melirik sedikit pada buku tebal itu. Rain membaca bagian depan pada cover .
"..Alasan mengapa aku bangun pagi, Alasan mengapa aku masih disini, Alasan kenapa aku masih menunggu. Alasan kenapa aku tak berani melangkah pergi. Semua alasan itu adalah Kamu-.."
"Mau baca"tawarnya.
Rain nampak canggung ia langsung mengalihkan perhatiannya pada nampan dengan mangkuk berisi baso panas.
"Sini mbok" kata Rain tak sabar. Cacing di perutnya sudah krisis.
.
.
Rain mejatuhkan tubuhnya di sofa. Ia ingin segera menaruh bunga bunga itu dalam Vas sebelum layu. Ia merangkainya dengan cantik. Masih tersisa 10 ikatan lagi yang belum di rangkainya. Tapi lihatlah.. ada 7 surat dari 10 ikat bunga terakhir.
"Surat apa ini?" Pertanyaan meanstream itu keluar juga. Surat itu berwarna warni. Warna pelangi.
1st letters. Merah
2nd letters. Jingga
3rd letters. Kuning
4th letters. Hijau
Rain. Aku Ferry. Aku Ferry Ramadhan. Aku tidak ingin muluk muluk . Aku berjanji aku akan selalu bersamamu. Selamanya.
5th letters
Ku ingin di hari ini saat kau membaca tulisan ini kau sedang tersenyum . Dan kau tersenyum karena aku. Iya kah?
Rain mengangguk tersenyum. 'Iya aku tersenyum karenamu'
6th letters. Biru
Rain aku pasti pulang . Jangan kemana mana ya. Di hatiku aja. Enak lhoo.. di hati lain banyak kerikilnya .hehehe
I miss you.
'Aku lebih merindukanmu Fer. Cepatlah pulang' kini segerombolan air berkecimpung ria di ambang mata Rain. Yang seenaknya meluncur tanpa ijin.
Last letters . Violet.
Violet . Kau suka warna itu bukan? Kau sekarang pasti masih menggunakan seragam kampus. Iya kan? Dan Kau sekarang akan bilang 'segeralah pulang pangeran ompongku' iya kan??? Hahaha... aku juga merindukanmu. Datanglah ke alun alun kota. Pukul 19.30. Aku merindukanmu. Aku ingin segera bertemu denganmu.
Love gou- Ferry.
'Iya Fer. Aku suka warna violet. Aku masih berseragam. Aku sudah berkata seperti itu tadi. Aku juga merindukannmu. Dan aku ingin segera memelukmu' guman Rai dalam hati. Iya tersenyum bangga pada Ferry. Aku mencintaimu.
.
.
Rain kini memakai eye liner, maskara. Bedak . Sedikit lipgloss pink. Gaun Tosca selutut model A. Dia cantik luar biasa.
.
.
.
==END==
Part 12 Next Post