Pratama
Pratama › Cerpen

on Friday, 18 September 2015

Rain Part 12

Part 12. [ im not believe it ]
FansPage : Khayalan

'Iya Fer. Aku suka warna violet. Aku masih berseragam. Aku sudah berkata seperti itu tadi. Aku juga merindukannmu. Dan aku ingin segera memelukmu' guman Rain dalam hati. Iya tersenyum bangga pada Ferry. Aku mencintaimu.
.
.
Rain kini memakai eye liner, maskara. Bedak . Sedikit lipgloss pink. Gaun Tosca selutut model A. Dia mamakai stiletto senada. Dia cantik luar biasa. Dia kini siap untuk melangkahkan kaki jenjangnya dengan mantap.
Rain membawa sesuatu dibalut dengan kertas pink. 'Aku kangen kamu' batinya dan mulai berjalan menuju taman. Ia tak terlalu berlebihan bukan? Pergi ke taman secantik itu. Heii.. dia memang cantik.
.
.
Rain merapi rapikan rambutnya. Tersenyum mengembang menatap lurus jalannya. Dia sudah terbiasa berjalan. Bukankah dulu besar juga pengorbanan Ferry yang mengayuh sepeda yang dia sendiri sedang sakit. Semua untuk Rain.
"Kau Ferryku" langkahnya makin cepat ingin segera bertemu sang pangeran ompongnya. Bawahannya berkelebat karna angin malam yang cukup dingin. Mendung pula.
Ngwiiiingggg...ngwinggggggg..
Suara motor kesana kemari menemani langkah Rain. Kini tinggal langkah terakhir untuk sampai di taman. Air bergerumul di ambang kelopak matanya. 'Hikss...' dia berlari melepas stilettonya berlari dengan kaki telanjang. Memeluk punggung seorang lelaki memakai kemeja kotak putih dan celana panjang. "Ferry aku merindukan mu" peluknya semakin erat. Kemeja bagian belakang laki laki itu basah karena air mata bahagianya. Tapi sosok lelaki didepeluknya kini tak bersuara. Tak menengok. Tak melakukan apa apa.
"Fer? " Rain melepas peluknya menjauh. Air matanya semakin deras. Ujung bibirnya tak bisa terangkat. Alisnya berkerut. " kau tak merindukanku? Ha? Ferr jawab " Rain sedikit membentak menatap siluet tegap yang mulai menoleh dan mendekat.
Laki laki itu memeluk Rain, tak bersuara . Rain sekarang tambah nenangis dengan kencangnya. Benda pink di genggamannya jatuh. Membuat Laki laki itu melepaskan Rain. Dan Rain kini bisa melihat seseorang dihadapannya. Jelas dia sekarang sadar di depannya bukanlah seorang Ferry.
"Kauu?? Mana Ferry?" Kini Rain mulai berteriak berteriak memanggil nama Ferry. "Ferry...." mulai berlari lari kecil seolah Ferry sedang bersembunyi dalam permainan petak umpet.
"Ferrrr!!" Kini dia menangis tambah kencang. Dress-nya basah bagian leher. Lututnya gemetar hingga sulit sekali menopang tubuhnya.
"Berhentilah Rain!" Bentak Herdyan yang tampak aneh. "Berhentilah menjadi cengeng, Ferry sudah tenang!!, Ferry sudah..., Berhentilah menangisinya" kini Herdyan tampak marah , yang membuat Rain tambah terisak. Kau dengar? " Ferry sudah tenang!!" Apa maksudnya?.
"Berhentilah Rain." Suara Herdyan yang kini mulai melemah, ikut berlutut di depan Rain.
"Aku mencintainya , kenapa? Kenapa dia tidak datang? dia bilang " tunggu aku" dan aku masih menunggunya." Isakannya terdengar lagi. "Ferry..." . Rain berteriak lagi dengan menunduk. Dan Herdyan langsung menarik tubuh Rain di dekapannya. "Maaf Rain. Tolong Rain berhentilah menangisinya" suara berat Herdyan berubah jadi serak dan pelan, mirip sekali dengan suara Ferry saat dia dikamarnya sedang memakan bubur. Rain kini mendongakkan wajahnya sejajar dengan Herdyan. "Kau tau Ferr-" belum selesai bicara Herdyan tangan kanannya menarik wajah Rain hingga bibir mereka bertautan. Dekapan tangan kiri Herdyan di punggung Rain sangat erat. Entah sejak kapan tangan Rain juga mendekapnya. Bulir bening menetes tidak beraturan dari sang langit. Mendung malam ini sungguh mengerikan. Hujan yang membiarkan sepasang manusia yang berciuman di tengah taman.
Rain kini melepas bibirnya cepat dan memudarkan pelukannya. Dia beranjak berdiri dan berlari menjauh tanpa berkata apapun, rambut dan bawahan bergerak seiring langkah cepatnya. "Maaf Rain. Maaf" Herdyan
masih terduduk ditengah taman dengan hujan deras yang menemaninya. Walau dingin hatinya merakan kemarau. Rain memang mencintai Ferry. Ya...Ferry yang sudah pergi.
Ekor matanya menangkap benda pink tergeletak di sampingnya. "Aku bahkan belum menyampaikannya padamu Rain. Kali ini dari Ferry. Ferrymu.." lirihnya meraih benda pink itu. Beranjak berdiri dan ikut berlari menyusul Rain.
.
.
.
Tidak ada yang tau dia disini. Mungkin itu pikir Rain. Dia duduk tersimpuh di ayunan pinggir taman,yang merupakan ujung taman. Kepalanya bersandar di atas ayunan yang basah karena memang habis hujan ,yang dulu di tempati Ferry.
"Kau kemana? Apa aku harus berteriak memanggilmu di langit dari sini. Agar kau datang?" Rancaunya terdengar parau.
"Tidak perlu" suara Ferry. Ya itu suara Ferry. Rain mengangkat kepalanya . Manik matanya menangkap sang pangeran ompongnya duduk di ayunan sampingnya.
"Ferry? " memastikan bahwa yang duduk itu adalah Ferry , bukan hantu atau semacamnya.
"Iya.., maaf aku baru datang" senyumnya mengembang memperlihatkan lesung pipitnya sampai matanya menyipit.
"Ku kira kau tak datang. Tadi aku.." ehh sebentar. Kenapa Ferry berpakaian seperti itu?.
"Kau tidak papakan Fer? Kenapa kau memakai baju rumah sakit?" Tanya Rain. Yang tidak di jawab Ferry.
"Kau merindukanku?" Tanya Ferry yang sengaja mengalihkan perhatian.
"Ya.. sungguh. Aku menunggu. Dan kau sekarang datang. Boleh aku memelukmu" tanya Rain. Langkahnya terhenti saat akan mendekati Ferry yang juga berdiri sekarang dan menggeleng pelan sembari menyeringai.
"Bolehh..tapi tidak bisa" senyumnya berubah menjadi tertawa kecil.
"Kenapa?"
"Karena kita sudah berbeda, .hmm kau mau menyukai kirimanku?" Tanya Ferry yang menunjuk Herdyan yang sekarang di belakang Rain agak jauh.
"Apa? Berbeda bagaimana? Kau disini aku juga disini. Iya bukan? Apa maksudmu. Kiriman apa?" Rain yang tampak bingung menengok kebelakang.
"Aku mengirimnya padamu, kau akan tau segalanya . " tersenyum melihat kebingungan Rain. Rain kembali menengok posisi Ferry. Oke baiklah , Ferry masih di situ tapi dengan pakaian yang berbeda lagi , Ferry memakai pakaian serba putih disampingnya ada seseorang yang memakai pakaian putih. Rain mencoba mencerna kalimat Ferry baik baik . Hingga akhirnya rintihan itu datang lagi. Rain menangis sejadi jadinya menatap bergantian antara Ferry dan Herdyan yang mulai mendekat.
"Kau kenapa? Maafkan aku soel tadi . Tidak seharusnya begitu" kata Herdyan yang memberikan surat kecil .
"Sudah dulu ya Rain. Waktu besuk sudah selesai. Aku mrncintaimu. Dia juga mencintaimu. Cintailah dia . Dia pria yang baik, jangan lupa doakan aku ya" lambaian tangan Ferry beriringan dengan tangisan sendu Rain.
"Ferry kau mau kemana? Kita bisa bersama. " Rain berlari menuju tumbuhan mawar di dekatnya. Menusuk nusukkan duri pada pergelangan tsngannya berkali kali. "Lihat Fer..lihatlah. Sebentar lagi aku akan menyusulmu. Kita akan bersama" rancaunya sambil tersenyum dan menangis. Herdyan langsung menghampiri Rain. Merebut paksa setangkai mawar yang penuh duri itu, hingga tangannya pun ikut berdarah. Ia hendak membuang mawar itu tapi Rain merebutnya kembali, tapi sayang duri itu malah menggores di pipi kanan Herdyan."Apa yang kau lakukan? Kau gila haa?? Kau tidak akan mati dengan cara seperti ini" Rain mulai diam dan menangis lagi. "Maaf " lirihnya yang hampir tak terdengar. "Lupakan"Herdyan melepas kemejanya yang basah karena hujan. Menyisakan dirinya dengan kaos putih tipis. Memeras kemejanya diatas tangan Rain yang penuh luka dan berdarah. Ia juga merobek kemejanya dan membalut tangan Rain dengan sedikit meringis karena tangannya juga sakit.
"Ayo pulang , tanganmu harus diobati , menurutlah" kali ini Rain diam dan menurut Herdyan.
Rain duduk di samping Herdyan . Herdyan melajukan mobilnya. Dan hening.
.
.
.
Herdyan melepas balutan tangan Rain. Membuka botol alkohol dan menyiramkannya ke luka Rain. Rain meringis menahan rasa perih. Membalutkan kasa yang sudah diberi antiseptik ketangan Rain. Ranya diam mendengar ocehan ocehan Herdyan ysng tak berujung ,sampai akhirnya dia berhenti bicara. Herdyan melakukan hal yang sama pada tangannya. Dan sentuhan tangan Rain mengambil alih saat membalut tangan Herdyan.
"Maafkan aku Herdyan"guman Rain yang ternyata didengar Herdyan.
"Iya.. panggil saja Herdin"
"Kemana huruf A nya? "
"Di kamu lah, Kenapa juga kamu dipanggil Rara. Kan jadinya aku nyisain satu A buat kamu"
"Hahaha" mereka cengengesan dan tertawa . Sudah akur ni??
.
.
"Mana botolnya?" Tanya Rain menanyakan botol antiseptiknya.
"Nih, buat apa?"
"Lukamu disini belum diobati" Rain memencet luka itu.
"Auuu.. heii sakit tau" reflek Herdin langsung kaget dan tidak sengaja menggenggam tangan Rain. Mereka bertatapan melihat tangan mereka masing masing.
"Tangan kamu ada tanda lahirnya " kata Herdin yang membuat Rain mencoba melepas genggamannya. Semakin Rain berusaha melepas , tangannya malah semakin lemas. Rain kembali melakukan kegiatanya. Mengobati pipi Herdin.
.
.
"Ini, baca aja" Herdin memberikan surat yang tadi hendak di berikannya tapi belum sempat di terima Rain.
Rain membukanya.

HAPPY VALENTINE DAY
Kaulah hujan yang tak pernah ku identikan dengan kesedihan , meski tak kunjung datang menghalau kemarau rindu yang panjang.
FERRY , 2015

To my special ones~
RAIN AUDREY HERMAWAN

Rain tersenyum melihatnya di belakang surat itu ada pesan lagi.

Kemarin aku memberikanmu surat berwarna merah. Apa kau sadar? Kau tidak takut melihat suratku? Yakin kau melihat itu ?

Rain baru tersadar syndromnya hilang hanya karna warna merah yang ia lihat itu dari Ferry . Dia bahkan lupa bahwa atau tidak tau . Entahlah.. padahal dulu setiap hari Ferry menggunan tas berwarna merah garis garis putih. Rain tidak takut. "Ferry terima kasih" Rain mendekap surat itu. Surat terakhir Ferry. Surat yang menyadarkan Rain, bahwa seseorang yang membuat surat itu sudah tenang disisi-Nya. Disisi lain Rain tidak tau apa yang harus di lakukannya tanpa Ferry. Tanpa Ferry yang menyemangatinya. Yang mencintainya. Yang bilang bahwa cewe cewe Singapure itu jelek.. yang membuat Rain merasa istimewa tanpa perlakuan yang berlebihan. Hanya mengantarkan sekolah memang. Sampai sekarang pun Rain masih belum mengerti mengapa Ferry lebih memilih sepeda padahal dia punya mobil atau motor yang seharusnya lebih mudah. Bermakna. Biarkanlah Ferry dan Tuhan saja yang tau.
.
.
"Heiii.. iya iya.. hemm. Aku di kacangin. Aku dikacangin. Aku dikacangin. Air mana airr hemmm serettt ..makan kacang mulu serettt" Herdin bernyanyi nyanyi aneh dengan lirik dikacangin dan nadanya asal.
"Hahaha iya tuhh.. aerr minum gih" Rain tertawa sambil menunjuk saluran air yang masih mengalirkan sedikit air hujan tadi.
"Jahat wehh" Herdin memanyunkan bibirnya. Lucu . Kek ikan lohan.
"Haha mukanya .. kek pantat panci" ejek Rain.
"Kamu kek sendal jepit" ejek Herdin balik..
"Haha kamvrett.. kamu tuh kek tape "
"Ember bolong"
"Gayung jebol"
"Kaleng soak"
"Kebo belek"
"Aerr comberan"
"Depkolektor"
"Bayar gih hutang "
"Haha..kamvett"
Ya begitulah mereka...
.
.
==END==
Part 13 Next Post