Pratama
Pratama › Cerpen

on Friday, 18 September 2015

RAIN Part 2



Part 2
"Ehh, maaf. Ini tempat duduk lo ya, gue di suruh (menunjuk Boby) duduk disini. Lo keberatan?" Suaranya . Suara yang tak asing bagiku . Aku seperti mengenalnya. Pernah bertemu dengannya tapi dimana ya? Arrgghh.. aku lupa
"Iya nggak papa kok" ku duduk di sebelahnya. Ku tatap wajahnya , matanya hitam legam, kulitnya putih tidak pucat, hidungnya hidung pakistan , pipinya ..hiiihh gue ini.
"Lo siapa?" Tanyanya memandangku penuh senyum.
"Gue. Rain Audrey Hermawan. Elo?" Kujabat tanganya yang hangat beda sekali dengan tanganku yang dingin.
"Gue. Ferry Ramadhan, by the way tangan lo dingin banget. Aku hanya nyengir , kulepas tangannya.
.
.
.
.
.
Gue inget , ya gue inget banget siapa yang duduk di sebelahku sekarang. Dia .....
Flashback on.
"Rain..gaunya pink hahaha" tawa bocah laki laki melihat Sahabatnya terlihat lucu. Rambutnya yang terurai pendek dengan pita merah menyisip di pinggir poni dora itu.
"Aji jahat. Aku kan cantik kaya berbi . Ih ajiii.." kesal Rain kecil saat berada di ulang tahun ke 7 nya.
"Haha berbi? Ondel ondel iya." Aji masih menertawakan Rain yang sekarang tambah cemberut. Rain lari layaknya anak kecil yang di nakali. Dia berlari sambil menangis membuat pandangannya buram. Dan bruuukk..
"Auuuww.., sakit. .....Mamaaaa." Rain menangis tambah keras yang membuat semua tertuju pada dua bocah yang bertabrakan tadi.
"Sakit ya? Maaf , aku tadi tidak melihatmu." Bocah laki laki yang ditabrak Rain tadi menyisipkan setengah rambut depan Rain ke telinga.
"Kamu cantik. Kalo nangis nanti cantikknya ilang lhoo." Kata polos anak umur 7 tahun itu.
"Aku cantik? Kaya berbi? " Rain langsung mendongak mengusap air matanya. Malihat bocah laki laki itu.
"Hhmm, i-ya cantik. Berbi aja kalah (tersenyum, giginya ompong)" menarik tangan Rain untuk berdiri.
"Hahaha. Kamu lucu. Ompong lagi ihh.." mencubit pipi bocah itu.
"Iya.. kemaren jatoh , trus giginya copot" malu karena sudah menampakan gigi omponya .
"Ehh..namamu siapa?" Tanya Rain antusias.
Tiba tiba Aji datang menarik Rain ke depan untuk memulai acara.
"Cepet Ra. "
"Aku.. Ferry Ramadhan." Teriak bocah laki laki itu , berharap Rain mendengarnya. Rain menoleh menberikan jempolnya sambil tersenyum. Bocah bernama Ferry tadi membalas dengan senyum lucunya sambil memiringkan kepala.
Flashback off.
Dia Ferry. Ferry kecil yang lucu , ompong, baik ,murah senyum dan sekarang menjadi ramaja yang super duper ganteng banget.gilaa gue terpesona sekaliiii. Hhh *oke ini alay*
"Lo Ferry? Lo inget gue nggak? Gue?" Memperlihatkan wajahku. siapa tau dia serera mengenalku.
"Lo? (Memperhatikan wajahku ) " dan persekon kemudian laki laki itu tersenyum padaku.
"Nah. Udah tau gue?" Ku naik turunkan alisku.
"Hahaha (mencubit pipi Rain). Berbi." Ferry terlihat begitu gemas .
"Berbi?..( sejurus kemudian Aku sadar) hahaha.. iya masih cantik kaya berbi kan?" Kini Ferry sama sekali tidak tersenyum dia kembali dengan posisi duduknya . Kutanya tak dijawanya . Apa sih? Kok diem? Dia menoleh ke arah belakangku dan.
"Ma-af bu. " bola matanya menatapku dan menggesernya kearah belakangku.
Maaf bu? Ku geser arah pandanganku . Ya tuhan aaaaaaaaaa bu Wid. *bu wid adalah guru killer ter-killer paling killer aahhhhhhhhhh*
Badanku memanas lemas pandanganku kualihkan ke bawah. 'Bodohh . Bodohhh kenapa gue nggak tau sih kalo udah ada guru masuk' .
"Gimana? Masih mau ngobrol? Diluar sana. Cepat keluar" matanya melotot, wajahnya serem , suaranya aduhhh .
"Maaf bu. " suaraku sangat pelan.
"Cepat keluar!!" Ahh bu Wid... menunjukku. Aku segera keluar . Malu sekali. Tapi? Kenapa Ferry mengikutiku.
"Heiii, kamu kenapa ikut keluar?" Tanya bu Wid pada Ferry sambil melotot.
"Ma-af bu, tadi saya juga ikut mengobrol di kelas." Jawab Ferry dan segera pergi dari kelas itu.
Ku tahu dia mengikutiku. Ku percepat langkahku. Aku merasa sangat ..AARghhh.
Dua kali aku ditegur guru pagi ini.
Di luar dingin ya? Ku dengar kata itu pelan di telingaku. Ya sangat pasti itu Ferry.
"Sorry ya Fer, gue ngajak lo ngobrol. cerewet pula." Ku sandarkan kepalaku di dinding aula melihat hujan turun dengan derasnya.
"Iya.. ga papa, kamu Pake? " dia tanpa ekspresi melihat gelangku.
"Pake apa? Ini (kutunjukkan gelang di pergelangan tanganku)?" Dan aku sekarang melihatnya mengeluarkan sesuatu.
"Nih.. (mengeluarkan gelang yang sama seperti yang aku pake) sama kan?" Mendongak dan memakai gelang itu.
"Kok lo punya sih?"
"Itu kado ultah buat lo berbi. Dulu banget." Menatap bulir bening yang turun bersama dari langit itu.
"Dari elo?? Ya ampun , makasih ya" sekarang ku tatap wajahnya 'dia ganteng, ganteng banget malah.. tapi kenapa ya gue belom punya perasaan ya sama dia?' Pikirku.
"Tunggu aja kali Ra, bisa cinta itu butuh proses dan waktu" wahh kata katanya, kok dia tau sih apa yang gue pikirin. Wahh jangan jangan dia penyihir. Isshh apaan sih gue ini.
Aku tak menjawab . Kita diam . Hanya ada suara hujan . Dan cuma itu yang buat gue nyaman saat ini.
***
"Jii. Lo mau pulang kan?" Tanyaku antusias .
"Hmmm, gimana ya Ra?. Gue mau ngajak Eta jalan jalan . Lo nggak keberatan kan Ra pulang sendiri?" Kata Aji yang membuat semangatku redup seketika. Aku hanya tersenyum dan menjawab iya sebelum akhirnya ku tinggalkan Aji saat Eta datang. Mungkin benar bila ada persahabatan antara laki laki dan perempuan tidak ada yang tulus menjadi sahabat, pasti salah satu atau keduanya mempunyai ketulusan lebih dari sahabat. Dan itu berlaku buat gue. Tapi sayangnya yang mempunyai rasa tulus lebih dari sahabat cuma gue. Aji nggak punya rasa lebih itu Sama sekali.
~0~
Rain berjalan gontai menunggu pangkalan angkot. Udara sore ini dingin sekali. Dikeluarkannya sweeter biru laut.
"Kring kring"
Bel sepeda mengalihkan perhatian Rain. Dilihatnya siluet tegap menunggangi sepedanya. Itu Ferry.
"Heii Ra. Sendiri aja nih?" Seketika Ferry menghentikan sepedanya tepat di samping Rain.
"Heii, iya nih. " menggambil botol minum yang tinggal setengah itu dari tasnya. Dan menyodorkannya ke Ferry. "Minum gih, muka muka lo tuh ya muka melas . Nggak tega gue . Cepetan minum." Rain membuka tutup botol dan meminumkanya ke mulut Ferry.
"Kok enak ya Ra" Ferry tersenyum aneh menatap Rain.
"Enak? (Rain tampak binggung . Padahal isinya cuma air putih)" menutupnya dan menaruhnya di penjepit depan sepeda Ferry.
"Ya enak lah, bekas bibir kamu, hahaha.. " tertawa puas melihat Rain yang kini tampak aneh.
"Ihhh... Ferry . Dasar Omes" memukul lengan Ferry. Dan pergi meninggalkanya. Seketika juga tanganya di dapat oleh Ferry.
"Hahaha .. oke deh . Maaf. Gitu aja marah" menariknya kembali. "Udah gih buruan naik. Gue boncengin. Gue tau muka melas lo. Cepetan" menarik Rain untuk duduk di bangku belakang.
Tak menolak Rain yang masih tetap diam itu naik . Tapi dia tak mau memegang Ferry.
"Oke siap? Yakin nggak mau pegangan? Yaudah deh terserah" mengayuh perlahan sepedanya. Melewati Jalan raya yang penuh dengan PKL .
"Fer, by the way lo nggak tau rumah gue kan?" Tanya Rain datar.
"Tau, tenang aja kali Ra . Gue gak bakal culik elo. " tatapanya lurus kini dia menambah kecepatan kayuhan sepedanya.
"Ferry.. hahaha pelan dong. Jangan cepet cepet . Aaaa Ferry guee jantungan." Gelak tawa dari Rain yang tak sadar memeluk punggung Ferry.
"Biaarr seruuu.." tawa Ferry juga terdengar. Mereka tertawa bersama melewati jalan kota, taman , dan hampir tiba di rumah Rain. Mereka terlihat sangat senang bahkan tak memperdulikan tatapan orang orang yang merasa aneh dengan tingkah mereka. Beberapa meter lagi mereka tiba di perumahan elit yang salah satunya milik Rain *orang tua Rain maksudnya*.
"Tuh.. Fer . Dua rumah lagi"
Dan ciitt. Sepeda Ferry berhenti tepat di getbang rumah Rain. Di teras rumah ada Rendy dan teman temsn SMPnya sedang membuat tugas sekolahnya. apalah itu terserah *author lupa namanya
"Cieee kak Rara.. sama pacarnya" teriak semua teman Rendy menggoda.
"Apaan sih kalian" pipi Rain merah memanas . Sama pun halnya dengan Ferry.
"Makasih ya Fer. " mencoba memecah kecanggungannya.
"Iya. Sama sama. Eh lo besok msu gue jemput?" Tanya Ferry dengan senyumnya.
"Hmm, nanti gue kabarin deh. Oh ya minta pin lo dong."
"Oke . See you ya Fer" teriak Rain melihat Ferry mrninggalkanya.
Ia memasuki rumahnya dengan malu karena teman teman Rendy selalu menggoda tentang Ferry.
"Kak Rara gimana sih?, kenapa tadi pagi Rendy nggak di bangunin ? Jadi telat deh. " kata Rendy yang tiba tiba muncul dari pintu .
"Yaelah Ren. Kakak lupa. Kenapa nggak pasang jam beker aja sih"
"Kan semalem tidurnya larut. Mana bisa mikirin jam beker" jawan Rendy yang tak mau kalah.
"Iya. Laen kali kakak bangunin, oh ya.. Eta belum balik?" Tiba tiba saja dia kepikiran Aji dan Eta.
"Belum tuh "
♡♡♡
Ferry POV
Ya tuhan senang sekali aku hari ini. Walau ada acara dimarahi bu Wid. Nggak masalah lah. Saat Rain masuk kelas. Sebenarnya, aku sudah mengenalnya. Tapi ku rasa saat bersamaku pikirannya tertuju pada orang lain. Atau mungkin dia sudah milik orang lain. Entahlah akan ku tanyakan besok pagi. Aku sungguh bahagia melihatnya. merasa rangkulan tanganya saat bersepeda tadi. Melihat pipi merahnya saat di goda tadi . Mungkin kah dia bisa menyisihkan sedikit ruang di hatinya untuk kumasuki?
'Ting'
Lamunanku terhenti saat ku menerima pesan bbm dari Rain. Ya tuhan, tanganku gemetar.
Ping!!!
Fer, lo jadi jemput gue kan? Gue tunggu ya besok pagi grin emotikon.
Yessss, gue bisa jemput Rain besok pagi. Terus ku ketik pesanku dan mengirimnya.
Oke deh Ra, setengah 7 ya.
Send.
***
Rain POV
sekarang pukul 18.30 dan Eta belum pulang. Kemana aja sih mereka. Jangan jangan mereka... arrgghh harus ku buang jauh jau pikiran gila ku ini.
Aku yakin Aji bukanlah orang yang seperti itu. Sambil menunggu mereka ku coba bbm Ferry.
Dan oke. Besok pagi gue bakalan di jemput Ferry. Hhhhhhh.. aku lihat DP nya Ferry. Weeiiittss ganteng banget. Suka sama Ferry?belum.. , aku belom deg degan .
Teet teet
suara klakson mobil Aji . Segera ku buka pintu dan...
melihat mereka berdua berpelukan sebelum akhirnya Aji memegang wajah Eta dan mencium bibinya dengan manisnya di depan mataku.
Dan baru saja aku menyaksikanya. Sulit sekali membendung air mata yang sudah hampir jatuh ini. Hingga akhirnya memang benar benar jatuh mengaliri pipiku . Aku menangisinya? Bodoh .. Eta mungkin sudah menjadi kekasihnya. Ya..kekasihnya..
.
.
.
.
===END===
Jangan Lupa Like Fpnya Khayalan
Part 3 Next Post