Pratama
Pratama › Cerpen

on Friday, 18 September 2015

Rain Part 6

FansPage : Khayalan
 [Married]

Rain sungguh lemas. Matanya tak mau berkompromi untuk berhenti mengeluarkan air mata harunya.
Sudah 3 jam Rain di kamar Ferry. Ia kemudian keluar untuk sekedar mencari udara segar di teras. Sebelum keluar , Rain menyelusuri ruangan ruangan di lantai atas. Sampai ekor matanya menangkap ruangan gelap dengan pintu terbuka. Rain sangat penasaran walau ia sedikit takut. Di dekatinya ruangan itu. Ia mendorong pelan pintu kayu itu. Tanganya meranyap rayap mencari saklar . Gelap sekali. Dan sepertinya ia sudah menemukan saklarnya. Ia menekannya ke atas dan lampu berkedip kedip sebentar sampai akhirnya terang. Wow..
Ruangan itu keren. Keren banget.
"Woww. Ini semua lukisan lo ya Fer? Sumpah bagus banget" guman Rain yang melihatnya sampai melongo.
Semua tembok di ruangan itu di lukis. Pada bilik depan dari ruangan itu terdapat tulisan.
"RaAFeR" dalam bentuk grafiti . Dan disampingnya ada lukisan Rain. Rain yang mengenakan gaun ungu rambutnya di kepang samping. Bukankah itu Rain persis saat di ulang tahun SMPnya. Ya Rain sangat yakin itu. Bagaimana bisa ? Ferry tidak bersekolah satu SMP dengan Rain. Entahlah, tapi itu sangat membuat tubuh Rain tambah melemas. Dia terjatuh dalam keadaan duduk. Air matanya mengalir lagi. Sudahlah Rain. Kau sudah tau bukan betapa cintanya Ferry pada Rain?. Rain menangis karena mengetahui itu semua. Ya.. itu, menjemputnya setiap pagi. Tentang buku itu. Dan ruangan ini. Itu semua baru ia ketahui dan sadari sampai seorang diranjang rumah sakit yang sangat jauh di sana memejamkan matanya, tidak teratur detak jantungnya pergi meninggalkan Rain. Rain sadar ia baru mencintai Ferry saat Ferry akan meninggalkannya. Itu sungguh sesak mengingat 1 bulan lalu ia tidak segera menerima cinta Ferry. Dan sekarang ia menyesal. Sangat menyesal.
.
.
Sudah berjam jam Rain ada di rumah Ferry. Dan sekarang sudah pukul 15.00 sore. Saatnya Rain pulang untuk menyiapkan semua hidangan untuk berbuka. Ia melangkahkan kakinya meyusuri tangga yang menurun. Melewati rusng tengah dan akhirnya sampai di ambang pintu. Menarik nafasnya panjang dan membuka knop pintu itu pelan. Ia mengunci ke pintu dan meraih sepedanya dan segera menggoes pedal wim cycle biru itu.
Sekarang yang ia fikirkan hanyalah mendoakan kesembuhan Ferry, menjalankan puasanya, dan membahagiakan orang yang disayanginya.
.
.
Tak lama kemudian Rain sampai di rumah bergaya tudor. Ya rumahnya. *AuthorBelomCeritaYa(?)
Orang tua Rain sangat klasik. Mereka memutuskan merenovasi rumah itu setelah melihat film Home Alone. *yaelahh.
Hari ini Rain ingin memasak sup wortel dan desert kesukaanya. puding delima.
Ia mahir sekali memasak. Itulah mengapa ia tak mempunyai asisten rumah tangga. Sudah cantik. Rajin. Pintar. Pandai masak pula *wahh wanita idaman
Setelah pukul 17.00 tepat. Ia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Ya nyapu lah. Cuci piringlah. Dll.lah
Randy dan Rain ngisi acara ngabuburit dengan giliran mandi. Wajarlah Mereka lama kalo mandi. Selesai mandi ehh udah adzan. Alhamdulillah. Mereka berdua buka dengan menu yang dimasak Rain. Enak? Ya pasti lah.. menutupnya dengan puding delima. *ahh.. ngiler.
Setelah berbuka mereka sholat magrib .
Ada ketukan pintu . Berkali-kali. Rain yang belum selesai sholat tetap khusyuk. Dan setelahnya membuka pintu.
"Ra.. gue pusing"
"Lo mabuk semalem Ta. Pagi pagi lo baru pulang sama Rio, sekarang pulang magrib. Lo gak ngapa ngapain kan?" Tanya Rain asal. Karna ia khawatir Eta sudah.. 'plis deh Ra. Nggak mungkin Eta macem macem' batin Rain yang sedari tadi melayang layang di fikirannya.
"Gue ..gue lupa Ra"tanganya menjambak rambutnya sambil meringis kesakitan. "Sakit..Ra,.sakit "
suaranya hampir hilang. Sampai sampai sekarang saat Eta berbicara tidak mengeluarkan suara sama sekali dengan mimik bibir yang tidak jelas.'Gue harus gimana' Rain mulai panik melihat keadaan Eta.
Segera ia menelpon Aji untuk membawa Eta ke rumah sakit terdekat.
"Nggak usah Ra, gue nggak papa" Eta langsung masuk ke kamar dan tak menggubris Rain yang berdiri dari tadi.
.
.
.
1 minggu kemudian.
Aji dan Rain duduk di depan UGD . Kini ingin sekali Rain menangis. Tapi air matanya sudah tak mampu lagi keluar.
Sehingga hanya terdengar isakan.
Krekk..
Pintu UGD keluar seorang dokter, dengan wajah datar. Tak senang ataupun sedih.
"Gimana dok?" Tanya antusias Aji yang langsung berdiri.
"Hmm, apa nona Deta sering mengkonsumsi minuman keras?" Tanya dokter sambil menutup pintu UGD.
"Hmm. Kurang tau dok soal sering ato nggaknya.Tapi sudah seminggu lalu Eta mabuk berat" jawab Aji. Yang kini dia menatap Rain .
"Saya sedikit bingung dengan kondisi nona Deta" kata dokter menatap Aji heran.
"Memang kondisi Eta sekarang gimana dok?" Sekarang Rain sungguh tak tahan untuk tau kondisi Eta.
"Hmm. Nona Deta mengalami komplikasi. Ada tumor kecil di bagian pinggang. Tensi darahnya tinggi. Ada kerusakan di bagian hati. Dan Rahimnya sangat lemah sehingga janin di dalamnya harus di jaga secara intensif. Apalagi janinnya masih sangat rentan" Jawab dokter.
Tenggorokan Rain tercekat. Tak mampu bernafas. 'Apa?? Janin?? Eta.. lo. aaaaaaaa' Rain berteriak sekeras mungkin dalam hatinya.
" Eta hamil dok?" Tanya Rain menggernyitkan dahinya.
"Iya.. ,selamat. Anda akan segera mempunyai momongan" dokter tersenyum menyalami Aji " "Tapi anda harus menjaga kondisi istri anda. Sudah 1 minggu . Istri anda jangan mengkonsumsi minuman beralkohol . Bahaya untuk bayinya kelak." kemudian dokter pergi sambil menepuk pundak Aji.
Mereka berdua saling tatap. Tak ada yang berbicara. Eta masih terlalu muda. Kelas 3 SMA. Apa yang akan dilakukan Heru bila tau putri sematawayangnyahamil di luar nikah?. Bagaimana Ujiannya bulan depan? 'Kenapa bodo banget sih lo Ta. Lo tu cantik. Tapi..ah ' batin kesal Rain tapi tetap saja kasihan melihat Eta. Komplikasi. Beribu pertanyaan menyeruak di benak Keduanya. Rio!!
Aji belum sempat menengok Eta yang terbaring di UGD itu langsung geram. Ia melangkahkan kakinya keluar rumah sakit. Tapi di cegah oleh Rain.
"Lo mau kemana? Nemuin Rio? Lebih baik kita liat dulu keadaan Eta" menggenggam tangan kuat Aji. Dan akhirnya kekuatan itu melemas. Aji tetap diam dan ikut masuk.
Di ranjang itu tidak terlihat Eta yang biasa. Dia bahkan lebih cantik. Tapi dia sudah menjadi ibu. Ibu dari janinnya kini.
"Gimana Ji" Rain mendongak melihat Aji yang lebih tinggi darinya.
"Kita tunggu dia sadar dulu Ra" Jawab Aji berusaha tenang.
Rain hanya mengangguk. Melihat teman serumahnya kini tak berdaya terbaring di rumah sakit. Dan Rain teringat Rendy. Rain segera menelponya agar tidak menunggu Rain di rumah.
.
.
.
Senin.
Pagi sebelum berangkat Rain ke rumah sakit membawa bubur untuk Eta. Untung saja rumah sakit dan Sekolahnya satu arah jadi tak terlalu membuang buang waktu.
Karna puasa ia tak menolak untuk diantar Aji. Tak banyak bicara, dan tak terasa sudah berada di sekolah mereka.
Dengan cepat Aji keluar tanpa memperdulikan Rain saat itu, langkahnya sangat cepat. Tak lama untuk sampai depan kelas Rio. Rio yang (merasa) tak tau apa apa itu menghampiri Aji dengan santai. Dan.. duss
Bogem mentah mendarat tepat di pipi Rio. Rio tersungkur di hadapan Aji dengan memegangi pipinya yang mengeluarkan cairan merah amis.
"Kenapa sih lo?" Tanya Rio sambil mengusap darah segarnya.
"( Aji tersenyum kecut) gausah sok bego deh lo. Ngapain aja lo sama Eta"gertak Aji dengan menarik krah baju osis Rio. Rio yang tak terima pun ikut meninju perut Aji hingga ia melepaskan cengkramanya.
"Eta..Eta..Eta. emangnya kenapa? Hamil?"Rio tertawa dengan di sertai seringaiannya.
"Dasar lo tuh (sensorkata)," Aji langsung bangkit dan terjadi perkelahian antara 2 pelajar SMA itu. Rain yang sedari tadi diam ikut maju dan merangkulnya mencoba menjauh menjauh.
"Udah Ji. Udah" suara Rain kecil hingga hampir tak terdengar. Karna Aji sangat kuat sampai sampai Rain jatuh.
"Itte .. panggil pak Muh sekarang" teriak Rain dan tetap mencoba mengendalikan emosi Aji. Rain berada di tengah mereka menghadap Rio. Slep. Tangan Rio mencegah bogem di belakang kepala Rain dari Aji yang salah sasaran.
"Lo sekarang keluar" teriak Rio pada Rain.
Rain kini mengikuti kata Rio dan menjadi penonton seperti siswa lain.
"Udah Ra. Tuhh" kata Itte yang tersenggal senggal sambil menunjuk pak Muh.
"Bubar semua... bubar" gertak pak Muh dengan suara beratnya. Semua anak pun pergi berhamburan mrngetahui kedatangan guru kesiswaan itu. Dan menyisakan Rain, Gritte, Rio dan Aji. Mereka tetap beradu pandang dengan sengit sampai di ruang BK. (BK::
konseling)
"Rain. Gritte sebaiknya kalian pergi ke kelas" kata pak Muh. Keduanya pun ke kelas.
.
.
.
"Gimana tadi Ji?" Rain dan Aji duduk di bangku taman.
"Nggak papa, bentar lagi kan ujian gak ada hukuman. Kecuali Eta. Rio tu cowo (sensorkata)"
"Hei.. pulang sana. Minum , batal tuh puasa lo." Rain memberi tissue sakunya pada Aji.
"Iya juga Ra. Makan yuk" ajak Aji antusias.
"Gue puasa kali. Emang elo.." mengeluarkan ponselnya.
"Terus gimana nih Ra. Batalin nggak ya?" Aji menghitung jarinya untuk batal atau nggak.
"Yehhh. Tanya aja sama pak ustadz sana." Tanggapan Rain walau matanya tetap ke layar ponsel. Tak ada notifikasi sama sekali dari Ferry . 'Gue terus doain lo kok Fer. Cepet sembuh ya' batin Rain memeluk foto Ferry sebagai wallpaper ponselnya.
"Eheeem . " dehaman Aji menyadarkan Rain. "Udah nih peluk peluknya? Aku nggak dipeluk nih? " goda Aji.
"Ihh. Apaan sih. Pulang yuk" Rain beranjak berdiri menarik tangan Aji tapi tak kuat membantu berdiri. Aji tersenyum manis walau lebam biru di pelipisnya sakit. *Lesung pipitnya itu lho..kek durian tuk dalang. Lhah kok (?).
.
.
.
.
.
.
1 bulan 2 minggu kemudian.
Tuntas sudah puasa kelarrr
Lebaran kelarrr
Dan ada rencana besar menghadang. Sesuatu yang sakral. Tapi sudah ilang sakralnya dikit, Eta kan Hamil. Walo belum besar (perutnya (?)) tapi tetangga banyak yang curiga. Ihh bikin malu keluarga aja sih.. tapi Rain tetap mau membantu Eta. Kecuali bilang ke orang tua Eta kalo mereka udah punya cucu.
"Bucketnya yang besar taruh situ ya mas" teriak Eta pada mas mas pendekor.
"Iya mbak" jawabnya.
Bulan ini Eta akan segera menikah. Ia tak melanjutkan Sekolahnya . Ia malu akan setatusnya sekarang. Ibu . Rain menjadi penyiap catering. Desert yang wajib menurut Rain adalah puding Delima, dan Eta pun tak keberatan dengan hal itu. Yang menjadi masalah adalah Heru dan Ranti tidak mengetahui resepsi pernikahan putri semata wayangnya itu. Terus yang jadi walinya siapa? Bukan bang Fa'ang kan?..*x_x
Kenapa rumit banget sih?
.
.
.
.
.
Hari yang dinantikan hampir tiba. Tinggal besok Eta akan melangsungkan pernikahannya . Semua perlengkapan sudah siap. Dekorasi. Perias. Catering. Tempat. Dan kedua calon mempelai. Dengan?
.
.
.
===END===
Part 7 Next Post