Aurel Amalia
Aurel Amalia › Cerpen

on Friday, 18 September 2015

Rain Part 9

Part 9. ( seven letters bag1 )
Rain Pov.
Sekarang bulan Desember di Jakarta. Dan Tau sendiri kan gimana banjirnya?.
Aku tak mengerti, hari ini aku sungguh nggak kerasa udah berminggu minggu yang lalu aku habis UN . Sekarang? Aku kuliah di UI . Walau aslinya pengen ke UGM. Rumor angker yang nggak lepas dari UI itu alasan pertama. Alasan kedua adalah aku sekarang di rumah sendiri . Rendy? Dia ke Bandung mau tinggal sama sekolah disama bareng Tante Ajeng. Adiknya mama. Aji? Dia kuliah di Australia. Wehhh keren nggak tu?
Dan LDR-an sama Gritte yang sekarang di Semarang ikut neneknya. Eta dan Hamid? Mereka ke Bali. Kayaknya sih menetap. Yaelah..ngenes amat idup ane.
Oh iya, sekarang aku bilangnya Aku-Kamu ya?. Iya nih . Aku pengen lebih akrab aja . Gue-Lo kerasa asing setelah nggak ada lagi yang bisa aku ajak ngobrol . Mau buat film home alone versi Rain ah..hehehe. Cukuplah hariku tanpa manusia.. kecuali dosen galak.
1 minggu yang lalu Ferry sempat mengirim email padaku. Begini:
From : Ferry_Ramadhan179@gmail.com
To : RainAudreyH_6@yahoo.com
Subjek : i miss you Barbie
How a yu Ra? Ayem fain.
Hahaha*sokbasainggris*
Alhamdulillah operasiku berhasil.
Dan sekarang
Kankerku sembuh total.. doa kamu manjur tuh hehehe
Kangen nggak nih ma aku? Aku disini kangen. Pengen boncengin kamu lagi..
Oh iya , kuliah dimana Ra? Aku kayaknya kuliah disini deh. Disini cewenya jelek jelek lho.. smile emotikon
Cantikan kamu. Tunggu pulang ya Ra, jangan sering sering mimpi in aku. Eh..tapi kalo mau nggak papa ding. Hihi
Udah ya Ra. Kamu baik baik di sana. Salam buat Aji.
Ferry
Aku tersenyum melihat pesan itu. Andai kau tau perasaanku saat ini. Mengetahui Ferry baik baik aja udah hilang lah 1/1000 rasa kangenku.
Ku balas segera pesannya.
From : RainAudreyH_6@yahoo.com
To : Ferry_Ramadhan179@gmail.com
Subjek : I miss u too ompongku sayang.
Don wori Fer. Ayem fain too
*hihi
Alhamdulillah Fer.
Yahh..frown emotikon kamu kuliah di sana ya?
Aku kangen.. banget. Pulang kapan Fer? Aku pengen di bonceng kamu lagi..pengen peluk kamu..hihi btw
Hemm..yakin disana nggak ada yang naksir kamu? Aku disini cemburu nih..
Jangan suka ama yang lain ya..
Disini selalu nunggu kamu pulang. Hehehe mau dong mimpi in kamu..
Miss you.
Rain
Dan ku klik send.
Aku seneng bisa komunikasi sama Ferry dan tau bahwa disana cewe cewenya jelek jelek.. hehehe
"Jangan suka sama yang lain ya Fer. Aku selalu nunggu kamu. Kapanpun itu. Selamat malam Fer. Mimpi in aku juga ya"ku coba segera menutup mataku agar segera bertemu dengannya . Dalam mimpi.
.
Minggu pagi yang mendung.
Apa kau tau ditinggalkan semua orang itu kek kopi tanpa air. Nggak bisa dinikmatin.
Apalagi tanpa Ferry. Heuhh..
.
Aku mau keluar nih untuk sekedar refresh pikiran . Di cafè favorit aku. Tau kan? Enggak .yaudah
Aku kali ini memakai boot press merah. Ya banjirnya di bawah lutut. Aku juga pakai topi. Topinya Ferry katanya buat aku.
Lumayanlah ..dikit berstyle.
.
Dinding kaca yang terkena tetesan gerimis awan mendung dingin pula. Hemm bisa ngrasain kan betapa dinginnya perasaanku saat ini. Aku memesan hot cappucino float. Dan sosis bakar. Hahh enak.
.
Kulihat bahwa aku benar benar diam dalam pantulan kaca jendela. Ku lihat mataku, pipiku, hidungku, bibirku. Bak tak bisa merasakan kehangatan didalam hatiku. Kau tau? Aku sendirian.
Cerita ini membosankan. Dan akulah tokoh utamanya. Aku lelah. Kalau mungkin Ferry disini. Mungkin Jauh terasa lebih baik.
Ku sesap hot cappucinoku . Ku pandangi semua orang disana. Aku tak tau hari apa ini. Kenapa semua orang yang datang memakai baju couple. Dan mereka SEPASANG. Ya. Semua. Kecuali aku. Hingga tak sedikit orang memandangku dengan tatapan anehnya. Heuhh..kenapa sih??
Hingga akhirnya ekor mataku melihat menembus rintik hujan dari kaca jendela
Seorang anak kecil berlari membawa payung kecil menuju kanopi toko roti tak jauh dari tempatnya berlari. Disana ada seorang gadis kecil memakai Pakaian seadanya, tangannya memeluk tubuh kecil berusaha melindunginya dari dingin yang menusuk kulit itu. Tak lama bocah laki laki menghampirinya langsung memakaikan mantel pink kecil ,tangan kirinya merangkul punggung gadis kecil itu, tangan kanannya membawa payung. Mereka berjalan sedikit berlari menuju arah jalanan. Rain sedikit penasaran dengan kedua bocah itu. Ia keluar demi melihat kemana bocah itu pergi. Dilihatnya mereka pergi ke gang kecil. Aku kembali masuk ke tempatnya semula menghabiskan hot cappucinoku dan pergi ke kasir.
.
.
Ku ikuti mereka ,untung saja aku bawa payung. Ku masuki gang kecil yang kumuh. Banjir pula. Ku berjalan lurus kedepan hingga manik mataku melihat sosok mereka diatas gardu (read: pagar balok)yang diatasya ada tenda (read : plastik yang lebar) yang cukup membuat mereka tak kehujanan . Si gadis kecil menyuap potong demi potong roti ke mulutnya. Sedangkan si bocah laki lakinya meniup niup teh panas yang ada dalam plastik.
Ku dekati mereka. Mereka yang sadar aku datang (?) Langsung menengok kearahku lalu tersenyum. Mereka melambaikan tangan kearahku (?). Ku lambaikan juga tanganku. Tapi sekejap mereka merasa bingung kepadaku. Lhohh ??
"Kak.. Ferry!!!" Teriak gadis kecil itu kepadaku (?) Atau..
Ku tengok sosok di belakangku. Siluet laki laki . Aku tak dapat melihat wajahnya. Tapi apa kau sadar? Gadis kecil itu bilang "kak.. Ferry!!!".
Laki laki yang dipanggil 'kak Ferry' itu mendekati mereka.
"Gimana kabarnya?" Tanya laki laki itu pada mereka. Aku masih belum bisa melihat wajahnya , hanya punggungnya.
"Baik kok kak, eh kak ada mba mba aneh" bisik bocah laki laki itu yang keras. Yang membuatku merasa sedikit malu (?). Malu . Karena ternyataereka nggak melambai ataupun tersenyum padaku.
"Mbak nya laper kali" jawab laki laki itu tanpa menoleh ke aku.
Mereka semua cekikikan. Kecuali aku.
"Mbaknya mau teh anget?" suara gadis kecil itu samar samar.
Ku geleng kepalaku. Ku dekati mereka. Ku lihat Ya.. itu bukan Ferry. Ferry tak punya tato di lehernya. Tapi tatonya "RaAFerR" . Flash back yuk. Inget deh . Itu kan grafiti di rumah Farrel.
Segera ku balikkan tubuh laki laki itu.. dan kau tau siapa itu?
.
.
Ferry Ramadhan. Tapi kenapa dia terlihat biasa ketika bertemu denganku?. Kenapa dia disini? Bukankah baru kemarin dia email aku dia akan kuliah di Singapure? Tapi kenapa detak jantungku normal tidak seperti saat dulu aku bertemu Ferry? Kenapa ini?
"Ferry??" Tanyaku "Fer?" Ku tatap bola matanya .
"Iya?" jawabnya singkat dia bertanya seolah olah siapa aku.
"Iya doang? Kamu.." kataku terpotong karena kulihat seorang gadis berambut hitam panjang langsung memeluknya dari samping. "Ferry.. aku kangen kamu" .
"Aku juga kangen kamu" kata Ferry yang membalas senyuman gadis itu.
Tak terasa sesak ini tak mampu di bendung lagi. Sesak sekali.
"Ferry?? Dia siapa??" Tanyaku samar dengan air mata yang mengalir sama seperti gerimis sore ini.
"Kamu yang siapa? Aku nggak kenal kamu." Kau tau? Itu perkataan Ferry yang paling menyakitkan. Aku tak ingin bersandiwara . Aku menangis. Menangisi Ferry yang lupa padaku. Bagaimana bisa lupa? Padahal kemarin dia berhubungan lewat email.
"Kamu jahat" ku berlari keluar dari gang itu. Aku tak tau sejak kapan aku tidak memakai payung. Tapi siapa perduli? .
.
.
Ku dengar langkah kaki mendekat kearahku . Ku coba menghentikan tangis ini. Tapi susah. Ku dengar samar suaranya yang kalah oleh suara hujan malam ini . Aku tak peduli aku sakit. Aku tak peduli besok aku kuliah. Aku tak peduli semuanya. Kecuali Ferry. Aku peduli kamu. Lama nunggu kamu Fer.
"Sorry Ra. Gue Bukan Ferry " suara Ferry . Ya ku yakin itu.
"Kenapa lo ngomong gitu?" Ku dongakkan kepalaku kearahnya. Memberi petunjuk bahwa aku Rain. Aku adalah Rain. Berbinya.
"Aku bukan Ferry . Aku... Ferry yang lain"
"Ferry yang lain ? Apa maksudmu?" Kini ku berdiri sejajar dengannya.
"Yang ngirim email ke kamu semalam aku. Tapi aku bukan Ferry. Aku bukan Ferrymu ." Suara beratnya. Persis sekali dengan Ferry. Tapi suara itu kian redup. Entah apa yang dibicarakannya aku tak bisa mendengar lagi. Dan gelap .
.
.
Author Pov
2 hari Rain masih pingsan. Pingsannya karena seharian sebelum kejadian itu Rain tidak makan sama sekali kecuali Hot Cappucino dan 2 sosis. Ditambah ia hujan hujan selama kurang lebih 7,5 jam.
Rain kini memucat. Tangannya dingin sekali . Ferry menenaninya di ranjang rumah sakit bersama 2 anak kecil dan satu orang gadis.
Mata Rain sayup sayup membuka matannya. Ia mulai kembali untuk memulihkan penglihatannya. Kini Rain benar benar sadar. Ia bisa merasakan bahwa tangannya di infus. Oa juga merasakan bahwa ada Ferry di disampingnya.
"Ferry" Rain tersenyum , tapi apa kau lihat ekspresi Ferry? Di nampak bingung setelah Rain kini sadar. Di balasnya senyuman Rain.
"Kamu masih pusing?" Tanya gadis di sebelah Ferry.
Rain hanya menggeleng . Dia mengernyitkan darinya mungkin ingin bertanya 'siapa kamu?'.
"Mbak.. kenapa pingsan? Apa kemaren itu mbaknya bener bener laper?" Tanya gadis kecil dengan lugunya duduk di kursi agak tinggi sambil memandang Rain serius. Rain hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
"Kalo mbaknya laper Roti Gilang bisa mbak makan kok" sahut bocah laki laki yang duduk di sebelahnya sambil menyodorkan Roti isi coklat. Kini Rain menggeleng dan tersenyum.
"Nggak papa kali mbak, yaudah deh Lang kita suapin bareng bareng biar mbaknya mau makan. Oh iya mbak namanya siapa?" Kata Gadis kecil dengan suara mungilnya.
"Rain" jawabnya pelan.
Mereka berdua menyuapi Rain secara paksa. Hingga Rain tak mampu menolaknya. Mereka bertiga tertawa bersama. Hingga Rain mungkin lupa kejadian kemarin lusa.
Ferry dan gadis di sampingnya pun seperti tak tega untuk mengatakan sesuatu kepada Rain. Melihat Rain kini yang baru pulih . Melihat Rain yang kini tertawa dengan lepasnya. Melihat Rain yang mungkin belum sanggup untuk mendengarkanya.
Ferry dan gadis itu berjalan agak menjauh membiarkan mereka bertiga tertawa lepas bahagia dengan cerita cerita dari sang penghibur . Kedua bocah itu. Rain berfikir bahwa tidak ada salahnya untuk sakit. Sakit itu kodrat manusia. Mungkin dengan sakit ia akan sejenak untuk merasakan tertawa bahagia.
.
.
Setelah cukup lama Ferry memindahkan kedua bocah yang tertidur ke sofa. Rain tampak lebih segar. Dan mungkin ia menerlukan banya waktu untuk mengerti semua runtutan kejadian akan mulai diceritakan oleh Ferry yang notabene orang yang sangat Rain cintai.
"Rain aku pengen ngomong" kata Ferry dengan pelan sabil duduk dekat Rain. Rain kemudian berusaha mengubah posisinya untuk duduk. Rain hanya mengangguk dan tersenyum. Melihat senyuman Rain membuat Ferry semakin tenang untuk menyampaikan sesuatu pada Rain.
"Sebenarnya..
Flashback on
"Rain . Perasaanku tak enak. Entah apa ini? Aku tak tau apa yang mungkin terjadi. Aku disini hanya ingin kau tau . Aku sangat mencintaimu" Ferry menuliskan sepucuk kata dalam kertas origami berwarna merah, malam sebelum Ferry berangkat ke Singapure.
.
Saat Rain berteriak dari bawah ketika pesawat Ferry berangkat. Ferry mendengar itu. Itulah suara terahir Rain yang dapat di dengar oleh Ferry. Saat itu pula otaknya sangat sakit. Dokter Tio (dokter yang selama ini merawat Ferry).
"Ya tuhan. Aku belum mau mati tuhan... aku mencintai Rain" desisnya saat menahan rasa sakitnya di atas pesawat. Nyeri yang menusuk nusuk otaknya kini tak mampu berkompromi lagi. Sakit sekali.
.
Setelah Ferry mendarat di Singapure. Ia langsung mendapat perawatan yang intensif. Ada 3 dokter ahli kanker yang siap menangani Ferry. Ferry saat itu sungguh dalam keadaan sangat fatal. Dokter Tio menunggu di luar ruang operasi dengan was was. Dokter Tio sebenarnya ingin memberitahu Rain tapi begitu saja mengurungkan niatnya karna dia akan tau bahwa Rain tidak akan diam saja disana. Ia pasti akan menyusul dan membuat kekhawatiran Ferry terhadapnya yang dapat membuat kankernya tak kunjung sembuh.
.
.
3jam berlalu..
3 dokter sekaligus keluar dengan ekspresi yang dapat ditebak sangat tidak memuaskan. Dokter Tio semakin gemetar melihat ketiga dokter keluar dengan ekspresi yang terlihat kacau.
"How the operation of Mr.Ferry? He've nothing bad at there? " tanya dokter Ferry.
"We are sorry sir. The operation is great but we cant finishing the first operation today. Many cancer in the Mr. Ferry's brain.
Dokter Carly dengan nada minta maaf. Karena kanker otak bukan perkara mudah.
"Okay. Doct"
.
.
"Rain . Aku mencintaimu. Kau ingin membuat ku bahagia? Iklaskan aku bila aku pergi. "
.
.
===END===
Part 10 Next Post